Kajari  Sanggau :Penegak Hukum Tidak Identik Dengan Hal-Hal Yang Menyeramkan.

0
36
Take :Acara puncak peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-58 di Sanggau

Sanggau,borneonetv .Acara puncak peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-58 digelar di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau, Senin (23/7). Setelah mengunjungi taman makam pahlawan dan upacara pada pagi hari, sekitar pukul 11.00 acara dilanjutkan dengan syukuran.yang dihadiri Forkompimda, dan ketiga pejabat penting Pemkab Sanggau yaitu, Bupati Paolus Hadi, Wabup Yohanes Ontot, dan Sekda Al.Laysandri.

Kasi Intel Kejari Sanggau Iman Khilman selaku Ketua Panitia dalam sambutannya mengatakan .Degan memperingati Hari Bhakti Adhyaksa ke-58 ini untuk mengingatkan tuntutan kita kepada masyarakat untuk menegakkan keadilan. Sesuai dengan tema kita pada hari ini yaitu berkarya dan berbhakti sepenuh hati untuk menjaga Negeri. Perlu kami sampaikan bahwa ada beberapa rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Hari Bhakti Adhyaksa ke-58 ini seperti turnamen volley ball yang diikuti 21 club yang bertempat di Gedung Balai Betomu, juga diadakan lomba sepak takraw di Rutan Sanggau sehingga mereka yang ada di Rutan juga bisa ikut serta dalam memeriahkan Hari Bhakti Adhyaksa ke-58 ini karena mereka juga butuh perhatian yang sama seperti kita dan untuk internal kami sendiri kami telah melaksanakan perlombaan bulutangkis dan tenis meja.

“Tentunya dengan beberapa serangkaian perlombaan yang dilaksanakan ini sukses dalam menarik perhatian kepada masyarakat, sekaligus mengolahragakan masyarakat dan mengajak masyarakat Sanggau untuk menyalurkan hobinya dalam berolahraga. Selain itu juga kami telah melaksanakan kegiatan sosial seperti donor darah, yang mana sudah ada 37 pendonor yang sudah melaksanakan donor, karena mengingat stok di PMI Sanggau kosong.

Sementara Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sanggau, M. Idris F. Sihite menegaskan, hal yang harus dipahami masyarakat bahwa penegak hukum tidak identik dengan hal-hal yang menyeramkan. “Seperti Pak Kepala Rutan. Seram kalau kita ke Rutan. Tapi banyak sisi humanis yang bisa kita kedepankan. Kami ingin menjangkau kepada masyarakat, bahwa sisi-sisi humanis ini bisa kita optimalkan,” katanya pada acara syukuran Hari Bhakti Adhyaksa.

Kajari juga menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi Rutan Klas IIB Sanggau. Seperti diketahui, satu di antara rangkaian acara memeriahkan Hari Bhakti Adhyaksa adalah menggelar pertandingan sepak takraw antar penghuni Rutan.

“Bagaimana antusiasme mereka. Karena selama ini jujur, orang-orang yang ada di Rutan itu adalah sering dianggap orang yang hilang atau dilupakan. Ternyata banyak yang harus kita pahami ulang. Empati kita harus yang kita koreksi ulang,” ujar Idris.

Ternyata, sebut Kajari, penegakkan hukum harus memandang berbagai sisi. Tidak berakhir hanya pengadilan menjatuhkan vonis, atau ketika jaksa melakukan eksekusi. “Banyak hal yang harus kita lakukan, terutama menyangkut, kalau saya istilahkan itu memanusiakan kembali mereka, sehingga siap kembali ke masyarakat. Karena mereka adalah orang yang juga merupakan bagian dari kita,” ungkapnya.

Idris menyebut, Kejaksaan juga menggelar lomba karya tulis, lantara ingin mengetahui persepsi masyarakat terhadap lembaga yang dipimpinnya. “Ini menjadi auto correct bagi kami sehingga memberikan pelayanan hukum yang lebih baik,” tuturnya.

Pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini juga berharap organ-organ negara lebih mengoptimalkan fungsi pelayanan publik. “Mungkin tidak muluk-muluk, dengan pendekatan IT yang sophisticated, tapi lebih mengoptimalkan hal-hal yang bersifat realistis, dan menyentuh masyarakat banyak. Termasuk yang sudah dilakukan Pak Kapolres dan timnya, langsung menyemput bola, memberikan perpanjangan SIM, SKCK dan lain sebagainya. Ini merupakan, katakanlah, cambuk buat kami untuk memberikan pelayanan maksimal buat seluruh komponen masyarakat di Sanggau,” bebernya.

Kajari menegaskan, selaku aparatur di bidang penuntutan dan penyidikan terutama tindak pidana korupsi, tidak ada maksud apapun, selain bentuk cinta pada masyarakat Kabupaten Sanggau. “Supaya pembangunan betul-betul dilaksanakan sampai ke lapis terbawah,” sambungnya.

Idris juga siap dengan tangan terbuka untuk berdiskusi, masukan dan kritik, agar aspek preventif dapat didahulukan. “Aspek-aspek represif itu bisa kita taruh di nomor 11. Preventifnnya nomor satu. Tapi semua harus berdasarkan komitmen dan keterbukaan dari kita masing-masing. Karena saya dan Pak Kapolres, jujur, tidak terlalu senang menghukum orang,” akunya.(Hery JB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here