Ekonomi Petani Sawit Terpuruk, Akibat Turunnya Harga TBS

oleh -15 views

Sekadau.BorneOneTV- Akibat turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) dalam dua bulan terakhir, kehidupan petani di Kabupaten Sekadau menjadi terpuruk. Hal itu di sebabkan banyak kebutuhan ekonomi dari para petani sawit yang tidak bisa terpenuhi akibat turunnya TBS petani sawit.

Bagi petani sawit, kebun sawit merupakan penopang ekonomi dan masa depan bagi keluarganya. Dengan turunnya TBS membuat kehidupan para petani sawit menjadi terpuruk yang berimbas luas pada kegiatan ekonomi masyarakat lainnya.

Seperti yang di ungkapkan oleh Agustinus Neri, petani sawit asal dusun Gonis Rabu desa Gonis Tekam, Kecamatan Sekadau Hilir mengatakan, petani sawit saat ini benar- benar dalam kesulitan ekonomi. Harga TBS menurun sangat drastis, dari harga nomalnya Rp.1.700- 1.800,- per kilogram nya, turun menjadi Rp.600, – Rp.750,- per kilogram nya,” ucap nya.

“Dari harga jual Rp.750, itu masih kotor. Masih banyak potongan biaya operasional lainnya. Paling sisanya yang diterima petani tinggal Rp.250 per kilogram nya, mana cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga” kata Agustinus Neri.

“Rasanya tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan kondisi harga TBS saat ini. Belum di tambah ada beban cicilan pinjaman di Bank senilai jutaan rupiah perbulannya. Benar- benar kecewa dan merasa tertindas atas anjloknya harga TBS yang tidak ada perubahan harga hingga saat ini,” ucap Agustinus Neri dengan nada kesal.

BACA JUGA Pabrik PTPN XIII Ditutup

Hal senada di ungkapkan oleh Sumadi, “dampak dari turunya harga TBS sangat luas di masyarakat. Dari ekonomi keluarga yang sulit, membuat perekonomian di masyarakat menjadi lesu. Para pedagang pun sepi dari pembeli, akibat penghasilan petani sawit turun drastis. Kebun sawit yang dulunya di bangga- banggakan sekarang mengecewakan, membuat perasaan menjadi sedih,” kata nya penuh rasa kecewa.

Para petani sawit berharap kepada pemerintah, untuk secepatnya memperbaiki harga TBS yang anjlok saat ini, hingga normal kembali,” tutur Para Petani penuh harap. (Dodi Rahman).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *