70 Tahun Kiprah BPAS Dalam Pengabdian Sosial

0
115

 

Pontianak ,BorneoneTV .70 Tahun sudah Badan Pemadam Api Siantan (BPAS) menjalankan kiprahnya dalam pengabdian sosial untuk menanggulangi Kebakaran di Kota Pontianak dan sekitarnya.

Untuk memeriahkan Hari Jadi yang Ke 70, Pengurus Yayasan BPAS merayakannya dengan sederhana di Gedung Serba Guna Harmoni, Jalan Budi Utomo, Pontianak Utara, Rabu (13/2).

Menurut Ketua Umum BPAS, Chin Bu Jung, BPAS ini terbentuk bermula dari barisan Sukarela pemadam Kebakaran yang didirikan pada tanggal 13 Pebruari 1949 oleh beberapa pemuka masyarakat seberang (Sekarang bernama Siantan) Kotapraja Pontianak yang terpanggil jiwa kepedulian sosialnya, mereka tergugah hati
menyaksikan 2 kali musibah kebakaran yang nyaris melalap satu kampung Parit Pekong Seberang.

Kemudian para pendiri mengumpulkan dana dari masyarakat sebesar Rp 20.000
(dua puluh ribu rupiah) untuk dibelikan mesin pompa air merk Gerbs Kronenburg Culemborg 3000 rpm dari Brands Puitent Fabriek Holland sebanyak 2 unit, dan sekaligus membentuk Pos 1 di Siantan Hulu dan Pos 2 di Siantan Tengah dengan anggota masing-masing sebanyak 50 orang.

“Mesin Pompa Air Merk Gerbs Kronenbure
Culemborg 3000 rpm pembelian tahun 1949
baik dan berfungsi,” kata Chin Bu Jung saat HUT Ke 70 BPAS.

Pada tanggal 29 September 1957 warga masyarakat di Siantan Hilir berpartisipasi pula mendirikan BPAS Pos III yang anggotanya berjumlah 50 orang, tetapi tidak dilengkapi dengan bangunan pos dan mesin pompa air sebagaimana mestinya.

“Saat itu, hanya menumpang di Pos milik Pabrik kilang minyak Sam Hin & Co dan meminjam Mesin Pompa airya apabila hendak menolong memadamkan kebakaran,” kata Chin Bu Jung.

Pada tanggal 26 September 1965, Pemda
dalam hal ini Jawatan Dinas Kebakaran
meminjamkan 1 (satu) unit mesin
pompa bekas merk Johnson kepada
Unit III namun mengingat kondisi mesin tersebut sering macet kala sedang beroperasi penanggulangan kebakaran, maka para pengurus memberanıkan diri minta bantuan beberapa pengusaha untuk pengadaan mesin pompa air.

Keberanian para pengurus tersebut mendapatkan hasil yang positif yaitu dengan diperolehnya satu buah Mesin Pompa Air Potable Merk Tohatsu.

Kemudian pada Tahun yang sama NV. Lim Kit Tjai menyumbangkan satu buah bangunan dilingkungan pabrik karet di Jalan Khatulistiwa Siantan Hilir untuk dijadikan Pos Unit III sebagaimana yang ditempati sekarang ini.

Pembangunan intensive yang giat dilaksanakan oleh Pemerintah di seluruh
wilayah Kotamadya Pontianak termasuk wilayah Siantan Kecamatan Pontianak
Utara yang dikenal sebagai daerah Industri dan pemukiman pendudukpun ikut
dibenahi, rumah-rumah/ ruko-ruko kumuh yang terletak di tepi jalan utama Siantan
diperintahkan oleh Pemda untuk dibongkar dan dibangun kembali menjadi ruko
permanent berlantai tiga.

Begitu pula dengan bangunan BPAS Pos II yang berlokasi di Kompleks Pasar jalan Gusti Situt Machmud juga dinyatakan Bouwallig. Mengingat minimnya dana BPAS, maka pengurus bermusyawarah mufakat
menjual bangunan lama BPAS Pos Ⅱ kemudian membeli bangunan lain di lokasi
Jalan Gusti Situt Machmud No. 10 A yang kini ditempati sebagai bangunan BPAS
Unit II yang juga sekaligus Kantor Inti BPAS
Sejalan dengan lajunya pembangunan era Orde Baru, maka komitmen BPAS.

Sejalan dengan lajunya pembangunan era Orde Baru, maka komitmen BPAS pun dirasakan kian tahun kian berat dalam misinya ikut berpartisipasi melindungi
hasil-hasil pembangunan fisik dari
bahaya kebakaran di Wilayah
Kotamadya Pontianak.

Sehubungan dengan itu, sejak kepengurusan BPAS Periode XI Tahun 1979-1981,dibawah kepemimpinan Ketua Sugimin Salim, BPAS mulai merekrut dan mengajak beberapa pemuka masyarakat “Pasar Tua” atau “Kota” untuk bersama sama memikirkan pengembangan BPAS, membina dan membenahi Organisasi BPAS guna menjawab tantangan zaman dalam konteks memajukan BPAS baik dalam usaha peningkatan kualitas tehnik profesi para anggota maupun dalam usaha penambahan sarana perlengkapan untuk
menunjang efektivitas penanggulangan si jago merah.

Karena itu, pada tahun 1980 BPAS Pos I mulai memperoleh sumbangan simpatik dari masyarakat berupa sebuah mobil bekas Merk Toyota Hiace, kemudian pada tahun 1982 dengan selesainya pembangunan Jembatan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, maka demi pertimbangan mobilitas yang cepat ke wilayah Kecamatan Pontianak Timur, Barat
dan Selatan atau disekitamya, maka pengurus BPAS kembali meminta uluran tangan dari para dermawan, sehingga terkumpul dana untuk membeli 2 (dua) unit
Mobil Toyota L 300 dan 3 (tiga) unit mesin Pompa Air Merk Tohatsu VDAM 75 CS beserta perlengkapannya.

“Dengan demikian Pos I, II dan III sudah memiliki masing-masing 1 (Satu) unit mobil beserta mesin pompanya,” jelasnya.

Dikatakannya, Puasa tanggal 10 Mei 1984, BPAS dikukuhkan oleh Notaris Tommy Tjoa Keng Liat, SH sebagai Badan Hukum dengan Akte Notaris Nomor 103 yang berbentuk Yayasan dengan nama Badan Pemadam Api Siantan, dengan Struktur Organisası
yang mantap, dimana Pos I, II dan III dirubah menjadi Unit I, II dan III yang mana
semuanya dibawah naungan Yayasan yang dalam menjalankan roda organisasi
berpedoman kepada Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

Eksistensi maupun kehadiran BPAS dalam aktivitasnya sebagai penanggulangan kebakaran semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Pontianak. Oleh karena itu pada tahun 1986 BPAS kembali memperoleh penghargaan dari Konsorsium Resiko Khusus Dewan Asuransi Indonesia berupa sebuah Mobil Daihatsu V83-RT dan 3 orang Pengurus BPAS diundang oleh Dirjen PUOD Depdagri dengan didampingi oleh WaliKotamadya Pontianak Letkol. A. Majid Hasan selaku beserta Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia untuk
didengar langsung usaha swakarsa masyarakat dalam upaya penanggulangan
kebakaran.

Kemudian pada tahun 1992 bertempat di Hotel Kartika atas segala upaya dari Ketua DPD Partai Golkar TK 1 Kalbar Mayjen Purn. H. Soedjiman beserta Danrem 121/ABw Kolonel Inf. Budi Sujana menghimpun dana dari pengusaha terkemuka untuk membantu kelancaran operasional pemadam kebakaran swasta.

“Dana yang terhimpun dalam pertemuan tersebut sebesar Rp. 220.000.000,- (Dua ratus dua puluh juta Rupiah), dan dibagi untuk 2 Yayasan Pemadam Kebakaran yaitu Yayasan BPAS sebesar Rp. 110.000.000,- ( Seratus sepuluh juta Rupiah ) dan Rp. 110.000.000,- (Seratus sepuluh juta Rupiah) diberikan kepada Yayasan Panca Bhakti.

Dengan Dana sebesar Rp. 110.000.000,- tersebut, atas keberanian dari Pengurus beserta Anggota BPAS dengan pertimbangan banyak parit tersumbat/
dangkal akibatnya petugas BPAS sering mengalami kesulitan air manakala dalam
penanggulangan si Jago Merah, maka dibelikan 2 Unit Mobil Truck Diesel PS
120 dan dirakit / direnovasi menjadi 2 (Dua) Unit Mobil Branwir (Tangki).

Sedangkan mesin Pompanya diperoleh dari Sumbangan dari Yayasan Sosial sebanyak 2 Unit, dari warga Komplek Pasar Sudirman dan Komplek Passr Ir. H. Juanda sebanyak 1 (Satu) unit dan dan Pemda Tk.I Kalimantan Barat sebanyak I unit yang diserahkan dalam rangka Hardiknas tanggal 2 Mei 1992.

Dengan berhasilnya renovasi-renovasi Mobil Branwir ini maka dibentuk lagi satu (1) Unit BPAS yang khusus menangani
mobil ini yaitu dengan nama unit tangki
yang anggotanya berjumlah 50 orang.

Pada tanggal 16 Maret 1997, Pengurus BPAS kembali melakukan kejutan dengan merehab Gedung Yayasan berukuran 6 x 35 x 2 1/2 lantai yang berkonstruksi beton dan atap Seng Gelombang dan Pembangunannya selesai dilaksanakan pada Tanggal 31 Agustus 1997.

Kejutan lain yang dilakukan adalah dengan merenovasi Mobil Branwir untuk dilengkapi Telescopic Lift. Sementara sebagai pensupplynya adalah mesin pompa
yang dirancang khusus dari mesin Mobil Kijang yang direnovasi menjadi mesin Pompa yang berkekuatan lebih besar dan mampu mensupply selama 8 jam berturut-turut.

Renovasi yang dilakukan oleh Yayasan BPAS dibawah bimbingan Tehnik Ketua Yayasan BPAS Simon Chandra yang juga sebagai pemilik bengkel CV. Inkara merupakan kebanggaan tersendiri bagi BPAS untuk mengantisipasi kesulitan air ataupun kesulitan penjangkuan ke bangunan Ruko yang bertingkat.

Kemudian dibawah kepemimpinannya, Chin Bu Jung pemilik Bengkel Usaha Mandiri di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara juga merancang dan memodifikasi fireboat mini yang dirancang untuk membantu dan mensuplay air kepada Damkar saat kebutuhan air mendesak dalam musibah kebakaran.

Kapal ini juga mampu bekerja untuk menanggulangi kebakaran di Sungai Kapuas.

Chin Bu Jung terpanggil memodifikasi dan merancang fireboat mini ini terinsipirasi dalam program saat terpilih sebagai Ketua Umum Yayasan Badan Pemadam Api Siantan (BPAS) Tahun 2014 lalu.

Inspirasi ini muncul dan sekaligus mendukung Waterfront City Kota Pontianak. Beberapa kali kebakaran di Kota Pontianak dan sekitarnya, terkadang mobil Pemadam Kebakaran terhambat karena arus lalu lintas padat dan akses jalan kecil. Sehingga membuat, Chin Bu Jung yang juga Ketua Umum BPAS merancang dan memodifikasi fireboat mini ini.

“Pajang Fireboat 12 meter x 24 meter, dengan kapasitas pomp suplay 420 kubik perjam.  Satu jam bisa untuk 100 unit mobil. Daya semprot horizontal 60 meter, vertikal 50 meter,  lobang nozzel 110 mm,” ujarnya.

Dikatakannya, kalau terjadi kebakaran di Sungai Kapuas, fireboat mini akan jadi andalan. Bisa digunakan untuk suplay Pemadam kebakaran (Damkar) lain yang membutuhkan. Daya suplai bisa untuk jarak 200 meter. “Fireboat ini milik pribadi dan di persembahakan untuk Pemkot Pontianak. Damkar memiliki prinsip, dari, oleh dan untuk masyarakat,” jelasnya. (Lay).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here