Kemhan Selenggarakan Rakor Evaluasi Pelaksanaan Bela Negara di Perguruan Tinggi

oleh -28 views
Take :Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu,memberikan keterangan pers usai membuka Rakor Evaluasi Pelaksanaan Bela Negara di Perguruan Tinggi, bertempat di Gedung AH Nasution Kementerian Pertahanan (05/03/2019). Photo: borneonetv/AS

Jakarta, borneonetv. Kementerian Pertahanan melalui Direktorat Bela Negara Potensi Pertahanan menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Evaluasi Bela Negara di Perguruan Tinggi. Rakor ini dihadiri oleh para Rektor dan dan Pimpinan Perguruan Tinggi seluruh Indonesia serta turut hadir pula Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Ismunandar yang mewakili Menristek Dikti. Rakor dibuka oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, bertempat di Gedung AH Nasution Kementerian Pertahanan (05/03/2019).

Kegiatan Rakor dan Evaluasi Pelaksanaan Bela Negara di Perguruan Tinggi ini merupakan tindak lanjut Kesepakatan Bersama antara Menteri Pertahanan dan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti). Kesepakatan yang ditanda tangani pada tanggal 6 Agustus 2016 ini kemudian ditindaklanjuti lagi dengan Surat Menteri Pertahanan kepada Menristekdikti di bulan Maret 2017 tentang pelaksanaan Pembinaan Kesadaran Bela Negara dalam kegiatan Pengenalan Kampus bagi mahasiswa baru.Menhan berharap, dalam pelaksanaan Pembinaan Kesadaran Bela Negara, para Rektor/Ketua/Direktur dan Koordinastor Kopertis Perguruan Tinggi dapat terus berkoordinasi dengan institusi terkait di daerah baik dengan institusi TNI, Polri, Pemda maupun lembaga terkait.

Dengan demikian akan terwujud kader-kader pemimpin yang selalu berada di depan dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongannya. Dan, para intelektual muda ini akan selalu menjadi role model bagi generasi muda lainnya di Indonesia maupun dunia.“Saya berharap, agar Perguruan Tinggi di Indonesia ini tidak hanya mencetak intelektual muda yang cerdas, tetapi juga mencetak para pemimpin bangsa di masa depan yang memiliki sifat kenegarawanan yaitu yang memiliki kecintaan kepada tanah air, rela berkorban bagi bangsa dan negara, setia kepada Pancasila dan cita-cita negara”, tutur Ryamizard.Sementara itu, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti menyampaikan terima kasih kepada Kemhan dan jajaran TNI yang telah membantu dan bekerjasama dalam pelaksanaan Pendidikan Kesadaran Bela Negara selama di lingkungan Perguruan Tinggi.Selama ini kegiatan Pembinaan Besadaran Bela Negara, sudah dilakukan oleh Kemenristek Dikti dengan bekerjasama dengan Pusdiklat Bela Negara Badiklat Kemhan, Kodam, Kodim, Rumpin Rindam, dan instansi terkait lainnya.

Diharapkan, dengan penyelenggaraan Rakor dan Evaluasi ini akan semakin mempererat kerja sama tersebut, sehingga pendidikan bela negara semakin baik dan efisien.Dikatakannya bahwa Mahasiswa merupakan bagian dari komponen penting dalam perjuangan bangsa kedepan, sehingga sudah menjadi tekat dari Kemenristek Dikti bahwa pada tahun ini akan mewajibkan dimasukannya kurikulum bela negara dan pendidikan anti korupsi.“Rakor ini sangat tepat waktu, bisa menjadi bekal bagi kita semua di Perguruan Tinggi untuk mecari bentuk yang paling tepat bagaimana memasukan pendidikan bela negara dalam kurikulum”, ujar Ismunandar.Ditempat yang sama, Rektor Uninersitas Pertahanan Letnan Jenderal TNI Dr. Tri Legiono Suko, S.I.P., M.AP mengatakan bahwa program bela negara ini merupakan hal yang penting karena merupakan pembentukan karakter yang berakar dari sikap dan perilaku dan tidak harus selalu militeristik. Sehingga setiap orang menyadari bahwa dirinya mempunyai mempunya peran untuk mempertahan negara ini.“

Bahwa program Bela Negara ini hal yang penting, karena akan membentuk karakter setiap individu yang berakar dari sikap dan perilaku sehari-hari dan tidak harus militerisme. Dan ouput yang diharapkan individu yang bersangkutan menyadari dirinya mempunyai peran serta untuk mempertahankan negara ini. Program Bela Negara ini sekarang sudah masuk dalam SKS”, kata Tri.Sementara itu Rektor Universitas Borneo Tarakan (2017 – 2021) Prof. Dr. Drs. Adri Patton, M.si. mengatakan, bahwa bahwa Universitas Borneo Tarakan menolak paham radikalisme, ujaran kebencian dan intoleransi serta menyatakan NKRI harga mati.

Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah wilayah di daerah perbatasan sehingga mahasiswa- mahasiswa ini adalah anak-anak perbatasan yang notabene dalam segi kemampuan finansial mereka tidak mungkin melanjukan pendidikan tanpa adanya bantuan dari pemerintah, adanya afirmasi baik dari ristekdikti, pemerintah lokal maupun pemprov oleh karena itu bicara bela negara, bicara cinta tanah air, bangga akan Indonersia ini jangan sampai ada anekdot yang mengatakan, garuda di dadaku, malaysia di perutku dan ringgit di dompetku.“Menurut saya, untuk memberikan pemahaman bela negara kepada mahaiswa dan sebagainya dengan mata kuliah MKDU dan sebagainya sudah baik. Tapi implementasinya di lapangan kita melihat ada pemuda-pemuda yang mereka cinta tanah air, mereka punya rasa patriotisme yang tinggi tetapi ketergantungan dengan negara tetangga dalam hal ini malaysia lebih tinggi. Oleh karena itu negara harus hadir dalam setiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara terutama yang ada di daerah perbatasan”, kata Adri.Rektor Universitas Borneo Tarakan Prof. Dr. Drs. Adri Patton, M.si.(as)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *