Begini Cara Pengolahan Gula Aren Secara Tradisional di Sekadau

oleh

Sekadau, BorneoOneTv – Potensi ekspor gula aren dari Indonesia cukup tinggi, dari data yang ada kebutuhan ekspor ke beberapa negara sekitar 17.338 ton/tahun, sementara kemampuan ekspor baru sekitar 1.200 ton/bulan. Seperti kita tahu bahwa gula aren merupakan produk yang dihasilan oleh pemekatan nira aren yang secara tradisional melalui pemanasan atau dimasak. Proses pemanasan berlangsung beberapa jam sampai kadar air berkurang hingga 6-5 persen. Dengan mendinginkan ke dalam cetakan lama-lama produk mengeras yang sekarang bisa disebut sebagai gula.
Abdul Dani (41) warga dari Desa Semabi, Kecamatan Sekadau Hilir
menjelaskan cara membuat gula aren atau gula botong tradisional.
Begini cara proses pembuatan gula aren atau gula botong tradisional. Pertama-tama, sebelum mengambil air dari pohon aren selama14 hari atau lebih dalam satu bulan dilakukan proses pemukulan dengan irama tertentu.
Setelah dipukul, kemudian lengan-lengan pohon aren di ayun hingga lentur. Proses ini dilakukan dengan tata cara adat petani aren, yang tidak sembarang dilakukan.
Setelah itu bunga atau mayangnya di potong. Dilanjutkan dengan mengelap air yang keluar dari batang sebanyak 3 kali, hal itu untuk melihat apakah air pohon enau atau aren itu banyak atau tidak.
Setelah di potong lengannya, di diamkan minimal selama dua hari dan setelah itu diperiksa sebanyak apa sagunya. Dalam proses pengambilan air, petani aren akan menyanyikan sebuah lagu, yang disebut bepomang.
Sedangkan proses pemasangan tangga untuk naik ke atas pohon dilakukan saat mulai mengayun.
Lebih lanjut pria yang mengaku sudah 20tahun mengolah gula aren menjelaskan, wadah saat mengambil air menggunakan bambu, namun bisa juga menggunakan jerigen. Ada pantangan bagi orang yang mengambil air enau atau aren tersebut yakni tidak boleh berbicara kotor dan perempuan yang sedang menstruasi juga tidak boleh ikut serta dalam proses pengolahan air aren ini.
Seorang petani aren juga tidak boleh pelit ketika orang lain meminta hasil sadapannya. Jika pantangan ini dilanggar maka, air enau akan cepat mengering.
Usai mengambil air, dilakukan penyaringan, proses penyaringan ini ada dua jenis. Pertama jika sagunya sedikit maka cukul menggunakan ijuk. Namun jika sagunya banyak maka menggunakan kain.
Proses pemasakan pun dilakukan dalam wadah yang besar dengan menggunakan tungku tanah dan kayu bakar. Selama proses pemasakan adonan gula aren terus di aduk selama 3 sampai 3,5 jam.
Sedangkan untuk membantu proses pengerasan gula menggunakan campuran getah kapuk. Setelah dicetak, gula biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mengeras. [Krisantus]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *