Banjir Bandang Terjang Dua Desa di Kec. Nanga Taman Sekadau

oleh

Sekadau, BorneOneTV.com – Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau kembali di landa banjir bandang. Berdasarkan keterangan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sekadau, Matius Jon banjir sempat melanda dua desa dengan ketinggian lebih dari satu meter, Sabtu (7/12/2019).

 

Matius Jon menceritakan kronologi kejadian hingga terjadinya banjir bandang di Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau itu.

“Banjir ini kan terjadi akibat hujan pada 6 Desember 2019 kemarin, banjir bandang yang melanda di dua desa yaitu Desa Meragun dan Desa Pantok. Kemudian akibat banjir bandang tersebut maka ibu kota kecamatan Nanga Taman mendapatkan kiriman juga.

 

Karena sungai taman dan sungai mansuka itu bermuara di Kecamatan Nanga taman atau di Kota Nanga Taman. Akibatnya tadi malam, mulai dari pukul 22.00 WIB banjir bandang sudah mulai terjadi di 2 Desa di kecamatan Nanga taman, yaitu di Desa Nanga Taman nya dan Desa Nanga Mansuka.

“Khusus di desa Nanga Taman, Kampung Taman, Kampung Tanjung dan pasar itu hampir sebagian besar tanahnya di genangi oleh banjir, dengan ketinggian antara 1- 1,5 Meter,” Matius.

 

Ia juga menyampaikan sesampainya tim BPBD Sekadau di lokasi kejadian pada pukul 23:30 WIB. Tim langsung melakukan evakuasi terhadap kelompok yang rentan dan harta benda yang dapat diselamatkan.

“Team BPBD datang ke lokasi sekitar pukul 23.30 WIB langsung kita membantu warga untuk mengevakuasi kelompok-kelompok rentan dan harta benda yang bisa di selamatkan terutama yang paling penting-penting, itu kita lakukan sampai pukul 05.00 WIB baru kita meninggalkan lokasi dengan kondisi prediksi air surut, karena ini banjir bandang. Tetapi untuk tahap selanjutnya, selain melayani atau membantu masyarakat dalam kondisi darurat kita juga wajib memberikan bantuan terutama untuk kebutuhan pokok, untuk masyarakat yang tidak dapat berkerja hari ini akibat banjir,” sambungnya.

 

Di tanya terkait kerugian akibat banjir tersebut kepala BPBD menyampaikan bahwa kerugian berupa ternak yang hanyut akibat bencana banjir

“Tadi malam itu terutama yang di Nanga Taman itu kerugian paling-paling ada yang ternak nya hanyut, tetapi harta benda yang di rumah, rata-rata bisa di selamatkan semua (di evakuasi) karena rata-rata mereka yang membuat rumah di pinggir sungai atau dataran rendah itu mereka membuat rumah tingkat 2, jadi mereka bisa mengamankannya di lantai atas, kemudian yang tidak berlantai 2 itu yang kita evakuasi,” ujar Kepala BPBD kabupaten Sekadau

 

Terkait jumlah bantuan yang diberikan, Kalak BPBD kabupaten Sekadau itu juga menjelaskan bahwa bantuan tersebut hanya berupa bantuan pokok.

“Kan bantuan itu sifat nya hanya kebutuhan pokok saja, yaitu bantuan berupa makanan. Dan untuk desa-desa seperti Desa Pantok yang menurut informasi yang kita terima, itu ada kerusakan bangunan yang hanyut, itu akan kita berikan bantuan lagi berupa bahan bangunan terutama untuk seng, yang lain tidak ada. Kita hanya bisa memberikan seng. Informasi terakhir satu di Desa Pantok, dan satu di Desa Meragun,” ungkapnya.

 

Banjir pun tak hanya berdampak pada bangunan rumah milik warga tetapi juga pada jembatan gantung yang menghubungkan beberapa dusun di desa tersebut. Jembatan ini berada di Desa Meragun, menghubungkan Desa Meragun dengan Desa Rirang Jati, tepatnya di Dusun Gerimis, disini adalah Dusun Keramin Tinggi menghubungkan antara Dusun Keramin tinggi dengan Dusun Gerinis, Dusun Keramin tinggi itu di Merangun. Sedangkan Dusun Gerinis itu ada di Rindang Jati ini di bangun dengan menggunakan dana desa.

 

Terkait pembangunan ulang akibat terjangan air yang mengakibatkan jembatan putus  Kalak BPBD Kabupaten Sekadau Matius Jon mengatakan dananya bisa dari APBD ataupun anggaran Dan Desa.

“Sumber dananya bisa dari APBD, bisa juga di Anggaran Dana Desa, untuk yang dana darurat, kita akan evakuasi dulu, karena ini di akhir tahun karena berhubungan juga banyak juga infrastruktur lain yang banyak mengalami kerusak karena bencana, nanti kita akan evaluasi lagi, kita lihat lagi,” ujar Matius

 

Yang jelas kalau pun dana darurat ini sudah tidak bisa di andalkan lagi, mungkin kedepan nya mungkin pemerintah Desa perlu memperhatikan ini. [krisantus]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *