Dampak Karhutla, Dua Orangutan yang Bertahan di Pohon Kering Diselamatkan Tim IAR-BKSDA Kalbar

oleh
Penyelamatan Orangutan dari Jalan Pelang-Tumbang Titi Km 9, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Minggu (2/2). Istimewa

Ketapang, BorneOneTV.com – Tim gabungan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang kembali menyelamatkan orangutan. Kali ini dua individu orangutan induk dan anak dari Jalan Pelang-Tumbang Titi km 9, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Minggu (2/2).

Penyelamatan dilakukan lantaran hutan tempat kedua orangutan ini habis karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dan menyisakan sisa batang pohon yang hangus dan ilalang yang mulai tumbuh.

Di lokasi, tim menemukan 3 individu orangutan, satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan anaknya yang diperkirakan berusia 3 tahun. Mereka bertahan di pohon kering. Pohon itu bahkan tampak sudah tidak mampu menahan mereka.

Namun, pada saat tim penyelamat berfokus pada induk dan anak kehilangan orangutan jantan. “Kami mengutamakan menyelamatkan induk dan anak ini karena kondisi keduanya lebih mengkhawatirkan daripada orangutan yang jantan,“ ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release dan Monitoring yang terjun langsung dalam kegiatan penyelamatan ini.

Lanjutnya, orangutan jantan itu masih sangat liar dan masih cukup kuat. “Kami pikir dia masih akan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama. Meskipun demikian kami tetap menurunkan tim patroli Orangutan Protection Unit (OPU) kami untuk melakukan patroli dan monitoring di sekitar kawasan ini karena sebenarnya daya dukung kehidupan untuk orangutan bisa dikatakan tidak ada sama sekali,” tuturnya.

Untuk mengevakuasi induk anak ini, tim penyelamat menggunakan senapan bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lapangan, induk orangutan ini mengalami malnutrisi dengan badan yang sangat kurus. Diduga induk anak orangutan ini mengalami kelaparan selama berbulan-bulan.

Induk anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak. “Kebakaran hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi orangutan di wilayah kerja IAR Indonesia, ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia.

Menurutnya, hilangnya hutan dalam skala sebesar akibat Karhutla membuat ruang bagi orangutan untuk bertahan hidup menjadi mengecil. Penyelamatan selalu merupakan pilihan terakhir. Karena kita tidak bisa membiarkan orangutan hidup disisa-sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi. Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, kita harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari kebakaran,” ungkapnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan, kerusakan habitat satwa pada akhirnya akan menyengsarakan manusia. Yakni semakin maraknya konflik antara satwa dengan manusia. Menurutnya, penyelamatan tersebut hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil, dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yang seharusnya diambil ke depan. “Kepedulian akan keberadaan dan kelestarian satwa menjadi tanggungjawab bersama baik pemerintah, mitra maupun masyarakat. Pada hakekatnya peduli pada satwa liar adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri,” tutupnya. (ra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *