Memaafkan Orang Yang Telah Meninggal

Ilustrasi Memaafkan. Foto : Dody Luber

BorneOneTV – Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk bermaaf-maafan. Sebagian benar-benar dengan tulus melupakan dan mengampuni mereka yang bersalah kepadanya, tetapi sebagian lainnya sebatas memaafkan lewat lisan saja. Ada hal-hal traumatis yang membikin orang-orang tak mudah bergerak dari situasi menyakitkan pada masa silam. Jangankan memaafkan, mengingat konflik-konflik dengan orang tertentu saja masih membuat dongkol.

Mereka pun berpikir waktu akan berangsur-angsur memulihkan relasinya dengan si pembuat kesalahan. Mereka menunda menyapa, berkomunikasi, apalagi membahas ganjalan hati akibat perlakuan buruk orang yang melukainya. Sampai akhirnya, hal tak terduga terjadi, si pembuat kesalahan meninggal. Orang-orang ini pun terpaksa menyimpan masalah tak terselesaikan di kemudian hari seperti dilansir dari laman www.tirto.id.

Dalam dunia psikologi, kondisi penuh memori buruk yang membuat orang sulit berdamai dengan orang yang telah meninggal dikatakan sebagai complicated grief. Dilansir dari laman Mayo Clinic, ada beberapa gejala yang kerap ditemukan pada orang-orang yang mengalami hal ini. Pertama, mereka merasakan kesedihan yang intens setiap kali mengenang orang yang telah meninggal. Fokus mereka pun lebih sering tertuju kepada sosok yang tiada tersebut dibanding hal-hal lain dalam hidupnya. Sekalipun memiliki masalah di masa silam dengan orang yang meninggal, mereka dapat merasakan kerinduan begitu besar yang membuatnya merana. Tidak jarang pula mereka menyangkal kenyataan bahwa orang yang bermasalah dengannya sudah meninggal.

Lebih lanjut, orang-orang yang mengalami complicated grief bisa berpikir bahwa hidupnya kehilangan tujuan atau makna. Perasaan mudah marah, mati rasa, tak menikmati hidup, dan lenyapnya kepercayaan terhadap orang lain juga dapat muncul saat memori-memori buruk terkait orang meninggal tersebut mendominasi pikiran mereka.

Complicated grief bisa berdampak pada fisik, mental, dan kehidupan sosial orang-orang. Mereka mungkin mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma, bahkan pikiran bunuh diri. Situasi mental yang buruk ini lantas mendorong penurunan kondisi fisik seperti gangguan tidur, risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, sampai kanker. Sebagai pelampiasan perasaan buruk yang dialami, mereka dapat memilih mengkomsumsi alkohol atau obat-obatan yang merusak tubuhnya. Mereka juga bisa kesulitan memulai relasi dengan orang-orang baru dan gagal berkonsentrasi dalam bekerja atau beraktivitas.

Ambil contoh seorang korban kekerasan seksual yang diserang oleh anggota keluarganya sendiri. Bukan perkara gampang untuk melupakan kejadian buruk dan memaafkan pihak yang menyakitinya. Namun, menunda rekonsiliasi dan membiarkan situasi tak damai sampai pelaku meninggal hanya membuat trauma terpelihara sampai-sampai orang lain sulit untuk mendekati dan mendapat kepercayaannya.

Keinginan untuk menegakkan keadilan kerap kali menjadi alasan mengapa orang tak bisa mudah memaafkan orang lain. Sebisa mungkin hukuman besar menimpa mereka yang melakukan kesalahan terhadap mereka. Namun, sekalipun hukuman telah dijatuhkan, katakanlah dalam kasus tadi si pelaku dipenjara, pengampunan tak selalu secara otomatis muncul.

Berbeda dengan konteks relasi dengan orang hidup, memaafkan orang meninggal lebih membawa dampak internal bagi seseorang. Bila memaafkan orang hidup berimplikasi terhadap pemulihan hubungan dua pihak, memaafkan orang meninggal hanya berefek pada bagaimana orang menjalani hari-hari setelah kepergian orang yang bersalah kepadanya. Tidak akan ada masa depan di mana mereka bisa kembali bercengkerama atau menciptakan momen-momen manis bersama orang yang tersebut. Yang dapat diubah adalah relasi mereka dengan dirinya sendiri.

Becky Blanton, salah satu penyintas kekerasan seksual yang dilakukan orangtua, mengungkapkan opininya kepada CNN tentang memaafkan sang ayah yang sudah meninggal. “Jika saya merasa diri saya orang yang baik, lantas saya berlaku jahat karena orang telah menjahati saya, artinya saya membiarkan tindakannya menentukan karakter dan perilaku saya,” ujarnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa memaafkan berhubungan dengan penilaian diri seseorang. Pengendalian diri juga menjadi hal yang implisit dari pemberian maaf karena sering kali, orang mengamini “mata balas mata” dalam memperlakukan orang lain. Ketika hal ini terus dilakukan, maka lingkaran setan tindakan buruk akan terbentuk.

Blanton juga menambahkan, “Pengampunan bukan tentang menerima suatu keadaan buruk sekadar di mulut. Pengampunan adalah pemahaman dan penerimaan sungguh-sungguh apa yang sudah terjadi, dan kesiapan untuk melepaskan segala beban, luka hati, dan rasa takut.” (DLA/ Tirto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.