PGRI Hulu Sungai Selatan Tertarik Regrouping SD di Pontianak

Wali Kota Pontianak, H. Sutarmidji, SH, M.Hum bersama Pengurus PGRI Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Foto : Jimi Ibrahim

BorneOneTV – Kemajuan dunia pendidikan di Kota Pontianak menarik minat rombongan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Rombongan yang terdiri dari 39 orang anggota PGRI ini dipimpin langsung oleh Ketua PGRI Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Yusferi berkunjung ke Kota Pontianak dan diterima Wali Kota Pontianak, H. Sutarmidji, SH, M.Hum di kediaman dinasnya, Sabtu (1/7/2017).

Yusferi menyebut, salah satu yang menarik untuk ditiru dari Kota Pontianak adalah regrouping Sekolah Dasar (SD). Jumlah SD di Kota Pontianak dari yang semula berjumlah 200-an lebih, setelah diregrouping tersisa 115 SD. Sementara di kabupaten daerah asalnya, jumlah SD sebanyak 243 sekolah. Padahal, jumlah penduduk Pontianak sekitar 600 ribuan, sementara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan hanya 250 ribuan. “Itu kurang efektif karena ada sekolah yang jumlah siswanya sedikit, bahkan kekurangan guru. Itu bisa diregrouping. Apa yang disampaikan Wali Kota soal regrouping akan kami pelajari untuk bisa diterapkan di daerah kami,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Ia juga mengapresiasi kepedulian Wali Kota Pontianak, Sutarmidji terhadap dunia pendidikan. Menurutnya, Wali Kota Pontianak sangat mengerti dan memahami persoalan dunia pendidikan. “Itu bagus sekali, kami sangat mengapresiasi beliau yang sangat peduli dengan dunia pendidikan,” ungkapnya.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, kunjungan rombongan PGRI Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini dalam rangka bertukar pikiran dengan PGRI Kota Pontianak dan Pemerintah Kota Pontianak terkait masalah pendidikan. “Kita saling berbagi pengalaman dalam dunia pendidikan, baik Kota Pontianak maupun Kabupaten Hulu Sungai Selatan,” ungkapnya.

Ia pun mengajak para guru, bagaimana supaya mereka tidak terjebak dalam model proses belajar mengajar yang diperoleh dari literatur ketika mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan.

Sutarmidji menekankan, hal terpenting adalah bagaimana guru bisa memodifikasi proses belajar mengajar dengan model penyampaian materi sesuai konsep atau gaya yang dimiliki guru itu sendiri serta menyesuaikan dengan kebutuhan anak didik. “Jangan kita paksakan gaya kita mengajar sesuai dengan teori. Kalau sudah bisa menciptakan interaksi antara guru dengan murid, baru suatu proses belajar mengajar itu berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Dikatakan Wali Kota yang menjabat selama dua periode ini, idealnya, guru yang paling baik adalah guru yang selalu dinantikan kehadirannya oleh murid-muridnya di depan kelas.

Sebaliknya, kalau guru yang kehadirannya sudah tidak diinginkan oleh murid-muridnya di depan kelas, maka guru tersebut dinilai gagal dalam menciptakan interaksi antara guru dan murid.

“Seperti iklan produk obat yang ditayangkan televisi, di mana para murid bersorak senang ketika gurunya tidak bisa hadir karena sakit perut, maka bisa dikatakan guru itu gagal dalam proses belajar mengajar,” pungkasnya. (Jimi Ibrahim/Humas Pemkot Pontianak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.