Trump Putus Asa karena Tak Kunjung Menang di Afganistan

Raja Arab Saudi Raja Salman menyambut Presiden AS Donald Trump di Bandar Udara Internasional Raja Khalid di Riyadh, Arab Saudi 20 Mei 2017.(foto/Reuters/Jonathan Ernst)

BorneOneTV – Keraguan Presiden  Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap perang di Afghanistan  membuat negara itu harus menunda penerapan siasat baru di kawasan Asia Selatan.

Keraguan itu bahkan membuat Trump  mempertimbangkan memecat komandan militer Amerika Serikat di kawasan itu, kata sumber Gedung  Putih pada Rabu.

Bacaan Lainnya

Saat menggelar rapat di ruang darurat Gedung Putih, Trump  meminta semua anggota kabinet keamanan memberikan keterangan lebih mengenai keadaan terkini di tempat Amerika Serikat menghabiskan 16 tahun perang melawan Taliban tanpa tanda kemenangan.

Rapat tersebut memanas saat Trump meminta Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis, dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Joseph Dunford, memecat Jenderal John Nicholsin, panglima pasukan Amerika Serikat di Afghanistan karena tidak berhasil menang perang.

“Kita belum juga mencapai kemenangan,” kata Trump kepada dua orang tersebut, sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber, yang tidak ingin jati dirinya terungkap.

Saat rapat itu selesai, pejabat setara menteri koordinator politik, Steve Bannon, terlibat adu mulut dengan pejabat setara menteri  koordinator keamanan HR McMaster terkait  arah kebijakan  Amerika Serikat.

Beberapa pejabat meninggalkan rapat itu dalam kondisi terkejut oleh keluhan presiden bahwa militer telah membiarkan Amerika  Serikat  kalah dalam peperangan.

Mattis, McMaster, dan beberapa pejabat tinggi lainnya kini berusaha menjawab keraguan Trump dalam cara yang bisa membuat sang presiden pemarah untuk menyetujui strategi baru di Asia  Selatan, kata sumber-sumber tersebut.

Gedung Putih  sendiri tidak berkomentar terhadap laporan mengenai pertemuan tersebut.

Rapat lain bersama para pejabat tinggi dijadwalkan akan digelar pada Kamis.

Trump sendiri pada awal tahun memberi Mattis kewenangan untuk mengirim pasukan militer Amerika Serikat  sesuai dengan kebutuhan. Namun, rencana menteri  pertahanan tersebut untuk menambah 4.000 tentara menjadi 8.400 untuk bertugas di Afghanistan, kini harus tertahan karena keluhan Trump.

“Semuanya bergantung pada persetujuan terkait strategi baru,” kata seorang pejabat pemerintahan mengenai pengiriman  pasukan tambahan.

Trump sudah sejak lama skeptis terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam peperangan di negara asing dan menyatakan tidak tertarik untuk mengirim pasukan militer tanpa rencana spesifik mengenai apa peran mereka dan untuk berapa lama.

Sejumlah pejabat mengatakan bahwa Trump meminta agar Afghanistan juga turut menanggung biaya satu trilyun dolar AS, dalam bentuk kekayaan tambang, sebagai bayaran atas bantuan keamanan bagi pemerintah Afghanistan.

Namun demikian, tanpa jaminan keamanan di seluruh bagian negara, tidak mungkin bagi Afghanistan untuk mengekspor kekayaan tambang tersebut ke pasar internasional, kecuali ke Iran.

Trump juga mengeluh karena menganggap China mengambil lebih banyak dari pertambangan di Afghanistan, kata sumber itu. (arah.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.