Kalbar Kekurangan Ribuan Tenaga Penyuluh Pertanian

Ilustrasi

BorneOneTV – Upaya pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam meningkatkan kemandirian pangan masih terkendala sejumlah masalah tekhnis. Pasalnya, peran strategis tenaga penyuluh pertanian, masih belum optimal, karena keterbatasan jumlah penyuluh di lapangan.

“Idealnya satu orang penyuluh pertanian menangani satu desa. Namun karena jumlah tenaga penyuluh pertanian masih kurang, akibatnya satu orang penyuluh bisa bertugas di dua desa bahkan lebih, Ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalbar, Heronimus Hero Rabu 16 Agustus 2017.

Menurutnya, untuk perekrutan tenaga penyuluh, memang dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah pusat, namun hingga kini belum ada formasi yang dibuka, karena adanya moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS).

“Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan penyuluh pertanian, saat ini pemerintah daerah memanfaatkan para penyuluh mandiri, yang notabenenya tidak terikat pada anggaran pemerintah dalam memberikan penyuluhan kepada para petani,” ungkapnya.

Sedangkan terkait masalah stok kebutuhan pangan di daerah ini, meskipun relatif aman namun dijelaskan Hero, pihaknya mencoba memangkas panjangnya rantai distribusi pangan, yang saat ini sering terkendala akibat minimnya fasilitas infrastruktur.

“Masalah distribusi pangan menjadi kendala pemerintah, dalam menyediakan bahan pangan untuk dikonsumsi masyarakat. Misalnya, pada distribusi beras. Beras yang awalnya dari petani, untuk sampai ke konsumen, harus melalui 7 sampai 9 tangga, namun saat ini pemerintah mencoba memangkasnya, sehingga dapat menurunkan harga jual beras di pasaran,” ujar dia.

Dirinya menambahkan, untuk saat ini, program tersebut baru berjalan di 8 dari 14 kabupaten dan kota di Provinsi Kalbar. Dengan melibatkan sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan), upaya memangkas rantai distribusi pangan ini dirasa cukup efektif.

“Bahkan dengan mengurai rantai distribusi ini, para petani di Kalbar sudah merasakan dampak positifnya, karena selain menanam, petani juga dilibatkan secara langsung untuk menjadi penjual beras hasil tanam padinya, melalui gapoktan yang dibentuk di masing-masing daerah,” pungkasnya.(Budi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.