Ateng Tanjaya Sikapi Karhutla Dengan Pantun

Pontianak-BorneoneTV, Ketua Forum Komunikasi Kebakaran Kota Pontianak Ateng Tajaya menyikapi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalbar pada umumnya, Kota Pontianak dan sekitarnya pada khususnya yang selalu melanda Kota Pontianak dengan pantun yang dikarangnya sendiri  terkait musibah yang seakan tak pernah habis dari Pontianak dan Kalbar yaitu Karhutla.

Terik matahari menyengat kepala. Kabut asap menyesakkan dada.

Tempat kaki berpijak bumi membara. Oh Tuhan tolonglah hamba padamkan Karhutla.

Maksud hati menggapai awan. Apa daya tangan tak sampai.

Maksud hati memadamkan kebakaran hutan.Apa daya sarana dan prasarana tak memadai.

Sedia payung sebelum hujan.Lebih baik mencegah daripada penanggulangan

Kalau sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan ,Berdoa lah kepada Tuhan turunkan hujan.

Badai pasti akan berlalu,Kabut asap pasti akan segera menghilang.Marilah kita membangun budaya malu,Semoga musibah ini tidak selalu terulang.

Ateng Tanjaya mengatakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)  bukanlah Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Pemadam Kebakaran (Damkar) Swasta.”Pemadaman lahan dan hutan, bagi Damkar Swasta tak memiliki  peralatan  yang memadai. Pemadam  swasta saat ini dipersiapkan  untuk memadamkan api yang melahap gedung dan bangunan,” kata Ateng Tanjaya, Selasa (14/8), saat ditemui dikediamannya.Dikatakannya, kalau tupoksi Damkar Swasta adalah relawan yang tidak digaji, tapi luar biasa semangatnya. “Tupoksi kami gedung atau bangunan,” jelasnya

Sebetulnya tugas pokok dan fungsi dari para pemadam swasta adalah memadamkan api jika melahap gedung dan perumahan  warga, namun tidak jarang karena merasa pekerjaan sosial pemadam swasta  juga berjibaku memadam api yang melahap lahan dan hutan.

Sedangkan untuk memadamkan lahan dan hutan yang terbakar adalah tugas Manggala Agni dan BPBD maupun BNPB. Tapi karena merasa tanggung jawab, pemadam swasta terkadang juga ikut terlibat pemadaman.”Pemadaman lahan dan hutan jauh lebih sulit ketimbang memadamkan api yang melahap gedung  dan permukiman,” jelasnya.

Kalau kebakaran lahan tingkat kesulitan lebih tinggi, medan berat, akses sulit. Tapi di Pontianak, kami lebih kepada panggilan jiwa, terlepas dia kepada agama apapun.  Damkar swasta ini hanya sukarelawan, tidak digaji, tapi sebagai warga negara yang baik dan umat beragama yang baik, kita bekerja di pemadam. “Sesuai panggilan jiwa dia, bertanggung jawab kepada tuhan yang maha kuasa dan mengharapkan ada perhatian dan bantuan dari pemerintah,” pintanya.

Ateng menyadari kalau pemadaman lahan dan hutan memang harus menjadi tanggung jawab semua pihak, tapi utamanya ada pada Manggala Agni, BPBD dan BNPB.  (Lay).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar