Bencana Kabut Asap Di Kota Pontianak Jangan Salahkan Petani

take : Bebrapa meter lagi pemukiman penduduk nyaris terbakar

Pontianak,BorneoneTV_Permasalahan kabut asap yang tenggah melanda kota pontianak dan sekitarnya menjadi permasalahan penting dan menjadi sorotan.Kabut asap yang semakin hari semakin pekat di kota pontianak dan sekitarnya, mulai membuat dampak yang serius bagi kesehatan dan kegiatan perekonomian masyarakat.

Advokasi Hukum Dewan Adat Dayak Provinsi Kalbar Yohanes Nenes,S.H pun angkat bicara, kepada media (20/8/2018) dirinya mengatakan bahwa, permasalahan kabut asap memang perlu mendapat perhatian serius. Sebab dampaknya sudah jelas sangat membahayakan bagi kesehatan manusia, terutama dampak terhadap anak-anak,”ucapnya.

Siapa yang bertanggung jawab dalam permasalahan ini?Jagan sampai salah sasaran dalam penangannya dengan mengkambing hitamkan masyarakat petani ladang berpindah didaerah,”tutur Yohanes Nenes.

tAKE :YOHNES NENES SH LBH MAD KALBAR

Munculnya Kabut asap bila kita cermati, secara kasat mata saat ini dapat kita lihat akibat dari pembakaran lahan gambut oleh oknum yang tidak bertangung jawab di sekitar pinggiran Kota Pontianak, di Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah,”itulah penyebab utama terjadinya kabut asap di dalam kota pontianak,”tegas Yohanes Nenes.

Bukan berati melakukan pembenaran terhadap petani di daerah yang sedang berladang, tetapi jika bencana kabut asap yang melanda kota pontianak hampir setiap tahunnya, perlu kita cermati justru muncul ketika pemerintah memberikan perizinan lahan, bagi perusahaan perkebunan sawit dan HTI,”kata Yohanes Nenes.

“Karena sepengetahuan saya,sebelum saya lahir masyarakat di kampung sudah memanfaat kan lahan berpindah dengan cara dibakar, namun tidak pernah ada muncul permasalahan asap . Dulu tidak pernah terdengar bencana kabut asap, akibat dari pengolahan lahan kering perbukitan oleh masyarakat dikampung, setelah perusahaan- perusahaan yang memerlukan lahan yang luas mulai muncul kebakaran lahan gambut dan hutan dengan skala yang luas dan besar,”ucap Yohanes Nenes.

Perlu diketahui, perladangan berpindah merupakan pengalaman masyarakat dalam mengolah lahan yang telah dipraktekan secara turun menurun, dengan mempertahankan kelestarian alam, bila kita lihat masyarakat di kampung menggunakan lahannya biasanya hanya sekali, kemudian lahan ditinggalkan untuk proses peremajaan menjadi hutan kembali dan baru bisa di manfaatkan kembali,”ungkapnya.

Dalam pengolahanya pun di lakukan secara bergotong- royong, yang bertujuan untuk secara bersama- sama mengamankan area lokasi yang akan dibakar, agar apinya tidak menjalar dan meluas kelingkungan sekitarnya. Pengolahan lahannya pun bukan dengan skala yang besar, sehingga tidak memicu munculnya asap dalam jumlah yang besar,”jelas Yohanes Nenes.Jadi dalam permasalahan ladang berpindah bukanlah hal yang baru, sudah sejak jaman dahulu. Namun, kenyataanya dampak kabut asap munculnya baru di jaman sekarang..?!,”ujar Yohanes Nenes.

Permasalahannya justru muncul ketika lahan gambut terbakar karena dibakar, meluas dan sulit dipadamkan, sehingga jelas memicu munculnya asap dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan bencana kabut asap. “Siapa yang membakar dan memamfaatkan lahan gambutnya? Sedangkan jika masyarakat di perkampungan, secara turun- temurun  mengolah lahan perbukitan kering dengan skala yang kecil sesuai kebutuhan hidupnya,”pungkasnya. (Dd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.