Cegah Penyebaran Virus Corona, Pemkot Pontianak Batalkan Festival Kulminasi Matahari

oleh
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono

Pontianak, BorneOneTV.com – Seorang warga Pontianak yang dinyatakan positif terjangkit Virus corona, saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso. Kegiatan-kegiatan yang mengundang keramaiaan di Kota Pontianak dibatalkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot), termasuk festival kulminasi matahari

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono juga meminta masyarakat untuk tidak mengunjungi tempat keramaian, karena semakin ramai orang bersinggungan semakin besar kemungkinan tertular. “Mudah-mudahan dengan kita mengecilkan kegiatan di luar termasuk meliburkan sekolah, di tempat keramaian, tempat wisata tidak semakin besar ketularan masyarakat kota terhadap virus ini. Selain itu Bapak gubernur sudah memerintahkan menutup perbatasan dan juga minta ke Menteri Perhubungan untuk menghentikan penerbangan langsung dari luar negeri,” tutur Edi, Minggu (15/3).

Terkait ada warga yang dinyatakan positif terjangkit virus corona, Edi mengatakan, Pemkot sudah melacak dan menelusuri pasien itu. Riwayat perjalannya, datang dari Kuala Lumpur, Malaysia. “Terus sempat bekerja kita lacak terus ke rumah, setelah itu dirawat salah satu rumah sakit swasta di Pontianak, pindah ke rumah sakit swasta lainnya tapi rawat jalan, setelah itu baru dirujuk ke rumah sakit Soadarso,” ucapnya.

Edi mengatakan, Pemkot juga sudah melakukan upaya sesuai dengan Standar Operasional yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI, seblum pasien itu dinyatakan positif. Langkah-langkah ini seperti pemantauan, penelusuran, isolasi kepada pihak keluarganya, termasuk perawat dan dokter rumah sakit selama pasien diopname.

Setelah dinyatakan positif pada 14 Maret kemarin, lanjut Edi, Pemkot akan lebih intens lagi melakukan upaya-upaya. “Pasien sendiri dalam kondisi stabil, dirawat terus. Tetapi yang kita antispasi adalah jejak pasien sebelum masuk ke rumah sakit Soedarso. Dari rumah sakit dia dirawat itu dilakukan isolasi mandiri ada 30 perawa menurut direktur rumah sakitnya dan ada dua dokter mengisolasi diri. Dan ini kita pantau,” tuturnya.

Edi  berharap ada keterbukaan dan jujur serta kerja sama yang baik, sehingga bisa dilacak dan dieliminir. “Misalnya istrinya selama ini apa saja kegiatannnya, belanja dimana, siapa saja yang datang. Kalau terlacak setidaknya bisa memutus mata rantai, itu harapan kita” jelasnya.

Edi mengimbau masyarakat Kota Pontianak agar tidak panik, tidak melakukan hal-hal yang justru merugikan yang lain,  terus mengikuti perkembangan baik melalui media televisi, cetak maupun online. Dan jangan terpengaruh dengan berita-berita yaang belum tentu kebenarannya atau hoaks. Selain itu, tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat serta sering mencuci tangan.

Kemudian karena sekolah sudah diliburkan, bagi orang tua untuk menjaga anaknya. Moment libur sekolah ini dijadikan sebagai hari bersama keluarga di rumah. “Kita juga akan memanggil kepala sekolah agar nanti memberikan pelajaran via online atau media sosial,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dr. Sidig Handanu Widoyono menyampaikan, secara teknis Dinas Kesehatan Kota Pontianak sudah ada tim koordinasi untuk penanggulangan Covid-19. “Juga kita sudah ada edaran wali kota yang khusus apa yang harus dilakukan, termasuk tim gerak capat,” tambah Sidiq.

Sidiq menuturkan, di Kota Pontianak sudah melaporkan lima pasien dalam pengawasan dan saat ini juga sudah ada 48 orang dengan pemantauan. Terkait satu orang dinyatakan positif, Sidiq menuturkan, ketika pasien tersebut masih di rawat di rumah sakit swasta telah dilakukan komunikasi resiko kepada keluarganya dan pasiennya sudah diberikan edukasi bagaimana isolasi mandiri, terumata keluarganya yang tinggal serumah. “Kita terus pantau dan akhirnya bahwa pasien ini naik dari orang dengan pemantauan menjadi pasien dalam pengawasan berdasarkan data-data klinis  dan radiologis di rumah sakit tersebut. Sehingga diputuskan pada hari itu harus diisolasi lebih lanjut ke rumah sakit rujukan,” tutur Sidiq.

Selanjutnya melakukan tracing (pelacakan). Jadi, apa yang disampaikan keluarga harus dicroscek dengan laporan dari masyarakat. Informasi dari masyarakat tersebut dilakukan pendalaman yang intinya adalah memantau sejauh mana orang tersebut melakukan kontak dengan orang lain.

Lalu, kepada yang kontak juga diberikan komunikasi resiko bahwa harus melakukan isolasi mandiri. “Isolasi madiri dari keluargannya ada tiga orang, dari rumah sakit sekitar 30an orang, kemungkinan akan bertambah lagi kerana orang itu ternyata bekerja. Maka kita harus cek di perusahaannya kemudiaan kami akan lakukan koordinasi mengimbau juga perusahaannya untuk dilakukan lockdown dan semua orang harus diisolasi di rumah kemudian di pantau,” pungkasnya. (BorneOneTV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.