Pengananan Covid-19 Pontianak Terkendala, Masyarakat Masih Rendah Mentaati Protokol Kesehatan

Pontianak, BorneOneTV.com_Walikota Pontianak menjelaskan penanganan Covid-19 di Kota Pontianak yang sebelumnya menjadi zona merah, dikarenakan tingkat penularan kasus konfirmasi positif Covid-19 meningkat, sedangkan tingkat kesembuhan sedikit, dan sejumlah rumah sakit kota Pontianak kewalahan akibat keterbatasan ruangan dan ketenaga kesehatan, ujarnya Edi Rusdi Kamtono, kepada wartawan borneonetv. Selasa (10/11/2020)

Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, mengatakan pihaknya terus melakukan upaya-upaya lebih ketat dalam penanganan dengan protokol kesehatan dan pengendalian pandemi Covid-19 supaya bisa sukses

Kemudian memberlakukan pembatasan sosial sejak senin lalu sampai 14 hari kedepan dengan menerapkan protokol Kesehatan dengan membatasi jam operasional, rumah makan, warung kopi, dll. dengan batas waktu 21 :00 WIB

Selain hal tersebut taman-taman juga ditutup yang banyak dikunjungi tempat kerumunan dan perketat melakukan razia secara rutin dan sporadis ditempat keramaian, siang dan malam hari.

Supaya masyarakat lebih disiplin dan teratur dengan protokol Kesehatan yaitu 3M. Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Dengan adanya pembatasan sosial tentu berdampak dengan aktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Namun kesehatan lebih penting akan tetapi tidak mengabaikan kegiatan ekonomi, jelasnya orang nomor satu di kota Pontianak

Di era adaptasi kehidupan baru ekonomi harus di pacu untuk tumbuh akan tetapi dengan mantaati protokol kesehatan

“Jadi kalau protokol kesehatan di taati, disiplin dan dipatuhi saya yakin tingkat ketertularan akan mengecil yang sembuh lebih bertambah, dan ekonomi terus bergerak” kata Edi Rusdi Kamtono

Sebenarnya masyarakat kota Pontianak sudah mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, walaupun ada yang masih membandel. Oleh sebab itu pemerintah kota Pontianak terus melakukan pengendalian Covid-19

Terkait dengan statement Gubenur kalbar Sutarmidji di media sosial dan media massa yang sempat viral dengan statement spontanya yang dilakukan Gubenur Kalbar  setelah melihat kondisi kota Pontianak zona merah dan menganggap warga masih banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan

“Beliau geram dengan otomatis membuat stetmen mengambil alih penanganan Covid-19 di Kota Pontianak”

Namun pihaknya terus berkordinasi dengan Gubenur Kalbar dan mendiskusikan tentang penangangan Covid-19 khususnya di kota Pontianak

Dengan prinsipnya Gubenur kalbar, membantu dengan tim satgas provinsi, memang mengharap bantuan seperti mesin PCR yang di kelola oleh Untan dan Tim Satgas Provinsi Kalbar, supaya penanganan pengendalian dan berkualitas efektif cepat hasilnya.

Kemudian tim gugus tugas Covid-19 Kota Pontianak bisa cepat mentrasing, menelusuri dan mencari kontak erak penyebaran virus corona

Kemudian hubungan moril dan regulasi-regulasi baik pemerintah provinsi maupun pusat yang mengacu (Inpres) nomor 7 dan Perwa nomor 58 dengan mendisiplikan protokol kesehatan dengan sanksi

Dan pemerintah provinsi Kalbar mengambil alih penanganan Covid-19 Kota Pontianak, hanya memback Up dan membantu, seperti yang beredar dimedia media sosial bang midji

Walikota Pontianak penangan Covid-19 fokus dalam menyiapkan tenaga medis terutama ahli paru.

RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Pontianak ahli paru cuma ada satu, sehingga melonjaknya pasien Covid-19 menjadi kewalahan. Namun dibantu oleh dokter lainya dan berkolaborasi

Hingga saat ini RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Pontianak masih bisa mengatasi selama jumlah lonjakanya tidak melebihi angka diluar toleransi kota Pontianak, untuk pasien isolasi di Rusunawa sudah ada 4 dokter, 19 perawat, dan tenaga lainya yang merupakan tenaga kontrak, pungkasnya (Hadin)