Danlantamal XII Ikuti Upacara Hari Bela Negara Ke 72, Ini Pesan Menhan RI

Pontianak, BorneOneTV.com_Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) XII Pontianak, Brigjen TNI Marinir Andi Rukman, mengikuti upacara  peringatan Hari Bela Negara ke 72 Tahun 2020, secara virtual, di Ruang Operasi Mako Lantamal XII Pontianak Jl. Kom Yos Sudarso No. 1, Kec. Pontianak Barat, Kota Pontianak, Sabtu (17/12).

Upacara ini diprakarsai oleh Kementerian Pertahanan RI dalam hal ini Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan yang pimpin oleh Dirjen Pothan Kemhan Mayjen TNI Dadang Hendrayudha.

Tema Hari Bela Negara 2020  “Semangat Bela Negara Wujudkan SDM Tangguh dan Unggul”.  Tema HBN 2020 tersebut diharapkan dapat membawa seluruh lapisan masyarakat untuk membela negara Indonesia.

Selain itu, di dalam poster di Kemhan juga dituliskan #AyoBelaIndonesiaku.
Tujuan tagar ini untuk menyadarkan seluruh bangsa Indonesia agar menjaga rumahnya.

Di poster peringatan HBN 2020, Kemhan juga menulis “#AyoBelaIndonesiaku. Karena Indonesia Rumah Kita Bersama.”

Sejarah Hari Bela Negara atau HBN ini diperingati setiap tanggal 19 Desember setiap tahunnya. Hari Bela Negara atau HBN berkaitan dengan deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr Sjafruddin Prawinegara di Sumatera Barat pada tahun 1948.

Hari Bela Negara disahkan melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun meskipun ditetapkan sebagai hari besar negara, tetapi pada hari itu bukan hari libur.

Hari Bela Negara bertujuan untuk mengenang peristiwa sejarah ketika Belanda melakukan Agresi Militer Ke II.

Saat itu Belanda mengumumkan tidak adanya lagi negara Indonesia. Agresi ini, diawali dengan tentara Belanda yang ingin menguasai Yogyakarta di mana saat itu menjadi Ibu Kota  Republik Indonesia.

Menindaklanjuti kabar tersebut, Presiden Soekarno langsung bertindak. Soekarno kemudian mengirimkan telegram yang mengabarkan serangan atas Ibu Kota Yogyakarta.

Setelah itu, Presiden Soekarno menugaskan Menteri Kemakmuran yaitu Sjarfuddin Prawinegara untuk membuat kelompok PDRI.

PDRI didirikan sebagai bentuk eksistensi terhadap Indonesia, yang mulai diduduki oleh Belanda pada saat itu.

Rencananya, jika Yogyakarta sudah diduduki, maka wilayah lainnya akan bertindak sebagai Indonesia.

Kota Bukitinggi lantas dipilih sebagai kota perjuangan dan ditunjuk sebagai Ibu Kota Negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk pada 19 Desember 1948 di Bukittingi, Sumatera Barat oleh Syafruddin Prawiranegara.

Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 18 Desember 2006.

Untuk mengenang sejarah perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pemerintah Republik Indonesia membangun Monumen Nasional Bela Negara di salah satu kawasan yang pernah menjadi basis PDRI dengan area seluas 40 hektare, tepatnya di Jorong Sungai Siriah, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Letjen TNI (Purn) H. Prabowo Subianto, menyampaikan bahwa pada momentum peringatan Hari Bela Negara saat ini, ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang kembali sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan NKRI.

“Mengenang kembali pengorbanan para pahlawan kusuma bangsa, sekaligus untuk menguatkan kembali keyakinan kita akan pentingnya persatuan dan kesatuan, semangat pantang menyerah, kebersamaan dan gotong royong untuk mempertahankan serta menjaga keutuhan NKRI,” pesan Letjen TNI (Purn) H. Prabowo Subianto.

Dikatakannya, Bela negara merupakan hak dan kewajiban konstitusional seluruh warga negara Indonesia.

“Bela negara adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD RI Tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara dari berbagai ancaman,” jelasnya.

Di sisi lain, masih kata mantan Pangkostrad, kesadaran bela negara juga menjadi modal sosial bangsa untuk membangun jati diri bangsa yang memiliki skill, knowledge dan attitude yang baik sebagai suatu karateristik sumber daya manusia unggul yang diperlukan di era revolusi industri 4.0 menjadi bangsa yang maju, berkepribadian dan berkebudayaan yang sejajar dengan negara maju lainnya.

“Ancaman pandemi covid-19 masih belum berakhir, yang paling urgen dalam melakukan bela negara saat ini adalah membela negara Indonesia untuk mengatasi pandemi covid-19. “ ajak Prabowo Subianto. (L4Y).