Ratap Warga Segedong, Hujan Kebocoran Banjir Tergenang Air

Mempawah, BorneOneTv.Com – Pernahkah anda membayangkan tinggal disebuah rumah yang apabila air pasang maka rumah itu terendam dan apabila hujan turun air hujan menetes kedalam rumah melalui atap yang sudah lapuk nan berlubang.

Entah berapa sudah jumlah atap yang terbuat dari bilah daun pohon nipah itu ditambal sulam oleh penghuninya, yang jelas apabila turun hujan, airnya akan menetes hingga membasahi ruangan didalam rumah itu.

“Ini selalu di tambal sulam jak kalau ada atap yang bocor, belum mampu menggantinya dengan atap seng” ucap Jubaidah dengan raut wajah pasrah.

Rasanya tak layak jika disebut rumah, apalagi untuk dihuni. Jika hujan mengalami kebocoran seisi rumah menjadi basah, jika air pasang naik, se isi rumahpun kebanjiran.

Tampak jelas wajah yang sedang menahan tetes air mata itu seolah menyembunyikan kesedihan mengisahkan hidupnya, sesekali terlihat juga ia mengusap wajah.

“Kalau sudah musim hujan basah semua, seperti pakaian bantal dan kasur ya kita pindahkan ketempat yang tidak bocor” lanjut jubaidah berkisah.

Bertahun sudah Ibu Jubaidah beserta suami dan anak menghuni bangunan ini, bertahan dengan segala kekuatan yang ada untuk bertahan dan melanjutkan hidup untuk hari esok berharap lebih baik.

“saya tinggal di rumah ini sejak tahun 95 dengan kondisi atap pakai daun ini dan beginilah keadaannya” lanjut dia.

Begitulah nasib keluarga yang tinggal di Desa Parit Bugis Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah ini. Pernah mengajukan bantuan renovasi rumah namun terhalang akan kepemilikan tanah.

“dulu pernah mengajukan untuk bedah rumah, namun tidak bisa dibantu karna tidak ada surat tanah atas rumah ini” jelas Jubaidah.

Ibu Jubaidah tak memiliki tanah, selama ini bangunan yang ditempatinya berasama keluarga menumpang diatas tanah saudara suaminya. Sebab itulah bantuan renovasi rumah tak bisa ia dapatkan.

Lokasi bangunan yang berada dibibir sungai membuat rawan akan rubuhnya bangunan itu terlebih hampir keseluruhan bangunan yang didiaminya telah lapuk, sebab konstruksi hanya terbuat dari kayu dan papan.

“Bukan tak rawan perasaan tinggal ditepi sungai, apalagi rumah ini uda lapuk terlebih lagi air pasang” kata Jubaidah.

Ibu Jubaidah hanya bekerja sebagai petani padi, jika ada yang memerlukan jasanya ia juga mengambil upah sebagai buruh tani untuk menanam padi, merumput padi serta memanen padi diladang milik orang lain untuk membuat dapurnya tetap mengepul. Pekerjaan itupun tidak dilakukanny setiap hari.

“Buat nambah pendapatan keluarga, saya biasa mengambil upah diladang orang lain. Itupun saya lakukan tidak setiap hari diwaktu – waktu tertentu saja jika ada orang yang membutuhkan jasa saya”,lanjut Jubaidah.

Sedangkan suaminya hanya bekerja sebagai buruh serabutan, terkadang bertukang itupun jika ada orang yang ingin menggunakan jasanya sebagai tukang bangunan. Jika tidak, suaminya hanya bekerja diladang sebagai petani padi.

Memang miris rasanya, namun hendak dikata apa sebab nasib belum berubtung.
Bertahan dengan kondisi sulit tak membuat ibu jubaidah putus asa, harap dan keinginan selalu ia panjatkan dalam setiap doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Pengen juga rasanya punya pondok – pondok diatas tanah milik sendiri meskipun kecil”, harap Jubaidah. Tim