Sidang Putusan Enam Terdakwa Narkotika di PN Sanggau, Satu Orang Divonis Hukuman Mati

Suasana sidang putusan enam orang terdakwa narkotika di Pengadian Negeri Sanggau, Jumat (25/6).

Sanggau, BorneOneTv.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sanggau menggelar sidang agenda pembacaan putusan enam terdakwa perkara narkotika, pada Jumat (25/6/2021) siang.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Dian Anggraini, didampingi hakim anggota B. Ivanovski Napitupulu dan Risky Edy Nawawi itu berlangsung secara virtual dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Kepala Kejaksaan Negeri Sanggau, Tengku Firdaus menyampaikan, bahwa keenam terdakwa dijatuhi vonis berbeda. Andi Alfen divonis hukuman mati, sementara lima rekannya dijatuhi hukuman berbeda.

“Putusan untuk terdakwa Andi Alfen sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Untuk terdakwa yang lain lebih ringan karena kita tuntut seumur hidup,” ujarnya.

Adapun putusan terdakwa lainnya kata Tengku yakni Paulus Sugio Pranoto diputus 17 tahun denda Rp10 miliar Subsider 1 tahun penjara kemudian, terdakwa Abdul Azis divonis 19 tahun penjara dan denda Rp10 miliar, subsider 1 tahun penjara. Terdakwa Akif Krisno divonis 16 tahun penjara dan denda Rp10 miliar, subsider 1 tahun penjara.

“Selanjutnya, terdakwa Dedi Mandagi divonis 15 tahun penjara dan denda Rp10 miliar dan subsider 1 tahun penjara, dan terdakwa Hartono divonis 18 tahun penjara dan denda Rp10 miliar, subsider 1 tahun penjara,” terangnya.

Tengku mengatakan, hasil dari putusan tersebut pihaknya dari JPU diberikan kesempatan tujuh hari oleh majelis hakim untuk menyatakan sikap, apakah menerima atau banding atas putusan itu.

Sebelumnya, JPU membeberkan kronologis keterlibatan para terdakwa dalam peredaran dan penyalahgunaan narkotika tersebut. Berawal pada 28 September 2020, pukul 12.00 WIB, terdakwa Andi Alfen, yang merupakan narapidana Lapas Klas II A Pontianak menghubungi keponakannya, Abdul Aziz, untuk mengambil narkotika sebanyak 10 kilogram dari Malaysia ke Indonesia dengan tujuan Pontianak.

Andi kemudian mentransfer uang Rp 10.000.000, ke rekening Abdul Aziz, untuk biaya perjalanan dari Lampung menuju Pontianak.

Keesokan harinya, tanggal 29 September 2020, Abdul Aziz tiba di Pontianak dan berangkat menuju Entikong. Setibanya di Entikong, sesuai dengan permintaan Andi, Abdul Aziz menghubungi seseorang bernama Hartono. Keduanya pun bertemu dan bersekongkol untuk mendapatkan untung lebih banyak dengan cara menukarkan narkoba jenis sabu dengan tawas.

Hari berikutnya, tanggal 02 Oktober 2020, Hartono dan Akif Krisno, mengambil narkoba tersebut dari seseorang bernama Wai di perbatasan Malaysia-Indonesia. Kemudian, Hartono mengambil satu bungkus sabu untuk disimpan dan menyerahkan sembilan bungkus sabu dan ekstasi yang disimpan dalam tas kepada Paulus Sugio Pranoto.

Selanjutnya,  pada tanggal 03 Oktober 2020, Paulus dan Abdul Aziz, membuka tas mengeluarkan tiga bungkus yang berisi sabu dan kemudian mereka mengganti tiga bungkus sabu dengan tiga bungkus tawas diletakkan di samping lemari, kemudian satu tas berisi narkotika dan tawas diserahkan kepada seseorang bernama Ambon di penginapan.

Sementara di sebuah SPBU Simpang Ampar, Abdul Aziz, melihat seseorang bernama Dedi Mandagi turun dari mobil, dan salah satu anggota Ditresnarkoba Polda Kalbar, Hafid turun dari mobil dangan membawa tas ransel merah hitam yang berisi sepuluh bungkus narkotika yang terdiri dari narkotika jenis sabu sebanyak tujuh bungkus dan ekstasi sebanyak 3 tiga bungkus, dan menyerahkan kepada Dedi Mandagi.

Pada saat tas tersebut dipegang oleh Dedi Mandagi, langsung dilakukan penyergapan oleh tim gabungan. (pul)