Pandemi Memaksa Upacara Kenegaraan Berubah Bentuk.

POntianak ,BorneoneTV.Com-Setiap tahun masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan RI pada 17 agustus, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya tahun ini upacara kemerdekaan Indonesia dirayakan secara virtual.

Hal tersebut diketahui dari Surat Kemendagri Republik Indonesia bernomor 003.1/4470/polpum yang ditandatangani Sekretaris Ditjen Politik & PUM, Dr. Imran, M.Si, M.A, tanggal 14 Juli 2021.

Dalam surat tersebut tertulis bahwa dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia Tahun 2021, Kementerian Dalam Negeri akan menyelenggarakan Parade Budaya Nusantara di era Pandemi via Virtual Zoom pada tanggal 18 Agustus 2021 pukul 13.00 WIB, didalamnya berisi launching lagu Mars Wawasan Kebangsaan dan penampitan yel-yel dari 34 Provinsi.

 

Sekretaris dirjen juga meminta agar kesbangpol kabupaten dan kota dapat mengajak jajarannya dan seluruh elemen masyarakat untuk menggelorakan Budaya Nusantara dalam Semarak Kemerdekaan melalui Parade Budaya Nusantara di era Pandemi via Virtual Zoom dan Perlombaan Tiktok Protokol Kesehatan sebagal wujud Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

pengamat sosial Dr Hendry Jurnawan, CLA mengungkapkan bahwa pandemi covid 19 telah memaksa negara melakukan perubahan pada pelaksanaan upacara kemerdekaan.

“Tahun 2021, Kemerdekaan Republik Indonesia ke 76, kita masih hidup dalam suana pandemi covid 19,  telah berlangsung satu setengah tahun wabah yang ganas ini, telah menelan 4 juta lebih jiwa manusia di atas bumi,” ungkap Dr Hendry.

“Memaksa negara kita, upacara kebesaran dan kehormatan dalam memperingati HUT RI ke-76 akan digelar secara terbatas. dengan memperhatikan  protokol kesehatan. Sementara, masyarakat dapat mengikuti upacara secara virtual. Pemerintah masih menjalankan upacara digelar secara minimalis,” sambungnya.

 

Menurut Dr Hendry Jurnawan, Kemerdekaan bagi masyarakat Indonesia, bukan akhir perjuangan. Indonesia akan memasuki 76 tahun kemerdekaan Republik. Merdeka dari penjajahan oleh negara lain selama berabad abad lamanya. Ini sungguh bertentangan  kebiadaban, pri kemanusiaan dan hak asasi manusia.

 

Selain itu Dr Hendry Jurnawan juga mengatakan bahwa kewajiban utama para generasi penerus, juga dapat diartikan sebagai wujud terima kasih kepada pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

 

“Para pejuang tidak mementingkan diri, mereka siap korbankan jiwa raga. Siap mati demi kemerdekaan. Banyak kalangan yang berusaha dengan hidup dan mati mereka, agar bendera Merah Putih dapat berkibar dari Sabang sampai Merauke,” kata Dr Hendry.

“Mereka adalah,pejuang, tokoh agama, masyarakat, pemuda, pelajar,  tentara, hingga masyarakat biasa, lintas agama, suku, ras, latar belakang berjuang tanpa pamrih,” Pungkasnya.***(deni )