Tiga saksi dari penuntut umum dihadirkan di sidang kasus dugaan penipuan makelar proyek 

Kamis, 7 Oktober 2021

Pontianak, BorneOneTV.com- Sidang dugaan kasus penipuan yang dilakukan oleh Ferryansyah kepada seorang kontraktor bernama Kiki Zulkifli kembali digelar pada rabu 6 oktober 2021 di Pengadilan Negeri Pontianak.

Kali ini agenda sidang mendengarkan keterangan dari tiga orang saksi yang diajukan oleh penuntut umum.

Salah seorang saksi yang dihadirkan adalah Ridwan, yang sejak tahun 2019 menjabat sebagai kepala bidang cipta karya Dinas PU provinsi Kalimantan Barat.

Dalam kesaksiannya Ridwan mengatakan bahwa 8 paket proyek yang dikerjakan Ferryansyah tidak terdapat dalam daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tahun 2017.

Menurut Kiki Zulkifli, penjelasan dari kabid cipta karya dinas PUPR provinsi Kalbar. Sudah jelas menunjukan bahwa terdakwa Ferryansyah memiliki niat menipu.

“Kalau memang penjelasan dari kabid cipta karya dinas PUPR terkait dengan mekanisme dan sistem paket-paket, sudah jelas bahwa terdakwa ini juga punya niat yang memang menipu,” kata Kiki.

Karena menurut Kiki, terdakwa sempat memberikan laporan bahwa pekerjaan tersebut sudah dimulai dengan memberikan foto saat MC+0 yang dihadiri oleh konsultan perencana, kontraktor dan pimpinan proyek.

Selain itu terdakwa juga memberikan laporan serah terima sementara pekerjaan (PHO) dengan dinas PUPR disertai dengan foto dilokasi.

“Kalau memang benar dia melakukan PHO dengan orang dinas tidak mungkin orang dinas mau turun baik melakukan MC+0 atau PHO terus tidak ada didaftar pekerjaan,” ujar Kiki.

“Sementara kalau ternyata tidak ada orang dinas yang ikut serta pada saat MC+0 atau PHO berarti dia melakukan penipuan lagi ke saya,” sambungnya.

Kiki Zulkifli juga mengomentari persidangan sebelumnya, dimana saat itu penasihat hukum terdakwa menunjukan foto copy cover surat perintah kerja (SPK) tahun 2018-2019.

“Saya tantang penasihat hukum untuk menunjukkan saya SPK asli, tunjukan saya satu bundel isi dalamnya apa? Betulkah ada tanda tangan cao basah dan di atas materai oleh PPK maupun perusahaan saya,” tutur Kiki.

“dan Itu cover tahun 2018-2019 itu sudah tidak ada pekerjaan lagi kita,” pungkasnya.

Kiki menambahkan bahwa saat ini dirinya masih terus mengikuti proses hukum yang sedang berlangsung dan berharap agar hakim bisa memberikan vonis yang adil bagi terdakwa.

Diketahui sebelumnya bahwa Kiki merupakan korban dari kasus penipuan atau penggelapan uang yang dilakukan oleh Ferryansyah serangan makelar proyek.

Adapun modus yang dilakukan Ferry adalah dengan menawarkan pekerjaan paket yang berasal dari beberapa anggota dewan di tingkat Kota Pontianak maupaun Provinsi Kalbar kepada Kiki yang dikerjakan dengan metode Penunjukan Langsung (PL).

Dari 18 paket proyek yang ditawarkan, hanya 10 paket yang dikerjakan, sementara sisanya 5 paket proyek yang ada di Pontianak dan 3 paket proyek di sambas adalah proyek fiktif karena tidak terdaftar dalam DIPA tahun 2017.

(Tim Peliputan)