Desa Pancur di Hebohkan Bangunan Bersimbol Kesultanan Sambas

Selasa, 16 November 2021

Sambas, BorneOneTV.com – Pihak Kesultanan Alwatzikoebillah digegerkan temuan simbol kesultanan sambas, yang mirip seperti Burung Elang Laut dada putih dan bertulisan Alwatzikoebillah di sebuah bangunan yang baru dibuat oleh seorang pemiliknya bernama Gustian Randa, di Desa Pancur Kecamatan Tanggaran Kabupaten Sambas.

Pasalnya simbul lambang kesultanan Sambas tersebut dipasang tanpa persetujuan dari pihak kesultanan Alwatzikoebillah Sambas, Dalam hal tersebut pihak istana memprotes tentang adanya simbul tersebut.

Istana Alwatzikoebillah merupakan istana Kesultanan Sambas yang menjadi pusat pemerintahan di Sambas hingga berakhirnya kekuasaan kesultanan.

Kesultanan Sambas sendiri telah berdiri cukup lama, sehingga namanya sempat tercatat di kitab Negara Kertagama karya Prapanca. Dibangun pada 1675, Kesultanan Sambas merupakan generasi penerus dari beberapa Kerajaan Sambas yang sebelumnya telah berdiri di sisi Sungai Sambas

Hal tersebut langsung menjadi perhatian oleh Kepala Desa Pancur, Budi dengan membuat surat kepada pihak istana yang mana berisi tentang Acara yang bertujuan silaturahmi dan sosialisasi tentang kelembagaan kesenian dan kebudayaan.

“Dalam rangka pembinaan kelembagaan kesenian dan kebudayaan di Desa Pancur, kecamatan tanggaran kabupaten Sambas, melalui surat kantor Desa Pancur kecamatan tanggaran bertempatan gedung posyandu serbaguna Desa Pancur, Senin,15/11/2021 yang mana surat tersebut ditujukan kepada YM.Pangeran Ratu M.Tarhan,, S.Pd” tertanda tanggan kepala desa Pancur, Budi, jumat, (12/11/2021) kemaren

Dalam pertemuan tersebut pihak kantor Desa Pancur memfasilitasi tempat yang bertempatan di gedung posyandu serbaguna Desa Pancur, kecamatan tanggaran, kabupaten Sambas. Senin,(15/11/2021).

Dalam sambutannya Pewaris tahta kesultanan Alwatzikoebillah, YM. Pangeran Ratu Muhammad Tarhan, S.Pd menyampaikan bahwa, pemasangan simbul Lambang tersebut harus meminta izin kepada pihak istana terlebih dahulu agar tidak disalah gunakan kemudian hari.

“Saya menyayangkan kepada Gustian Randa untuk tidak melakukan hal tersebut dikarnakan lambang tersebut adalah simbul marwah kesultanan Sambas, yang ada di istana Alwatzikoebillah,” jelasnya, Senin,(15/11/2021).

Pangeran meminta kepada pihak yang akan mencatut simbul lambang istana agar membuat membuat administrasinya ke pihak kesultanan dan nantinya akan di seleksi.

“Untuk Simbul tersebut baik untuk organisasi dan apapun itu menyangkut Simbul lambang

Alwatzikoebillah, alangkah baiknya untuk meminta izin terlebih dahulu ke istana, dengan melengkapi Surat-surat kelengkapan administrasi,” tegasnya

Sebagai tindaklanjut atas persoalan tersebut, Pemerintah Desa Pancur kemudian mengundang kerabat Kesultanan Sambas untuk hadir dalam kegiatan sosialisasi tentang kelembagaan kesenian dan kebudayaan yang dimotori oleh Pemerintah Kabupaten Sambas pada Senin 15 November kemarin.

Dalam kesempatan itu, Gustian Randa mengatakan rumah yang mirip dengan Istana Alwatziekhoebillah tersebut dia bangun dengan uang pribadi tanpa dibantu siapapun. Dia ingin marwah Istana Alwatziekhoebillah tatap terjaga di kampung kelahirannya.

“Saya hanya ingin seni dan budaya kita tetap terjaga. Saya tidak mengerti seperti apa aturan yang harus diikuti jika ingin membuat rumah seperti itu,” ujarnya.

(Tim)