banner 120x600

Merawat Zikir Nazam Kabupaten Sambas Tetap Kekal

banner 120x600

SAMBAS , Kalbar ,Zikir Nazam menjadi tradisi wajib bagi masyarakat Melayu Kabupaten Sambas dalam setiap acara resmi.

Warga Kabupaten Sambas biasa menyebutnya ‘Serakalan’. Acara ini lazim digelar untuk mengisi acara pesta pernikahan, akikah, selamatan, hingga acara khitanan.

Baru baru ini acara zikir Nazam digelar Warga Gang Usaha Baru, Lumbang Ngadang Kecamatan Sambas. Mereka memberi ruang bagi anak-anak untuk ikut aktif dalam zikir nazam. Anak-anak dan orang tua terlihat sangat kompak dalam memainkan dan melantunkan zikir nazam.

Beranggotakan lima orang, anak-anak usia sekolah dasar yang mengenakan baju teluk belanga serba putih, berkopiah hitam, itu tampak kompak menabuh gendang rebana dan memainkan tamborin.

Tak hanya anak-anak seusia sekolah dasar, alat musik khas Melayu itu juga ditabuh anak remaja desa. Mereka juga berjumlah lima orang. Soal tampilan, mereka memilih baju merah lengan panjang. Kopiah tetap sama warna hitam.

Sebelum tampil pada acara resmi, mereka dilatih rutin. Biasanya satu sampai dua kali dalam satu minggu. Tak memakan waktu yang cukup lama, generasi muda itu mulai lihai memainkan alat musik tradisional tersebut.

“Seminggu sekali, kadang dalam seminggu dua kali (melatih) mereka, anak-anak inikan daya tangkapnya masih kuat, jadi lebih mudah melatih mereka,” ujar Tajudin (40), pembina Zikir Nazam Desa Lumbang.

Tak hanya mengisi zikir nazam di desa sendiri, anak-anak tersebut juga tak jarang tampil di desa tetangga. Ini menjadi upaya untuk melestarikan adat budaya Kabupaten Sambas agar tetap kekal.

“Biasanya zikir nazam ini banyak melibatkan orang orang tua, tapi di Desa Lumbang, khususnya Gang Usaha Baru Lumbang Ngadang ini, kami mengikutsertakan anak-anak, untuk merawat adat budaya dan tradisi tetap lestari,” paparnya.

Sebagai informasi, Zikir Nazam telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia pada tahun 2020. Zikir Nazam memuat syair puja dan puji kepada Rasulallah. Kini tradisi itu juga menjadi sebuah seni budaya. (Tim/ag )

 

%d blogger menyukai ini: