banner 120x600

Sinergisitas PDPI dan Kemenkes Wujud Nyata Perangi Tuberkulosis

banner 120x600
Jakarta, borneonetv.com — Kuman mycobacterium tuberculosis adalah penyebab utama tuberkulosis, penyebarannya biasanya melalui udara atau semburan air liur yang bisa menyerang tidak hanya paru-paru, tetapi juga organ lainnya seperti kelenjar getah bening, tulang, otak ataupun kulit.

Tuberkulosis (TB) di Indonesia sendiri saat ini menempati peringkat 2 besar dunia dengan jumlah pasien TB terbanyak di dunia setelah India. Penyakit ini bahkan menjadi penyebab kematian ke-13 dan penyakit menular kedua setelah COVID-19. Di Indonesia terdapat 824.000 kasus TB dimana Jawa Barat sendiri menjadi peringkat ke-1 tertinggi beban TBC di Indonesia yaitu 148.737 kasus.

Hari TB Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret. Peringatan ini bertujuan untuk mengenang peristiwa penyakit TB pertama kali ditemukan serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian negara-negara di dunia. Diharapakan dengan peringatan ini  masyarakat selalu sadar bahwa TBC adalah penyakit yang masih dikategorikan sebagai epidemi.

Tema Global dalam memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia pada tahun 2023 adalah “Yes! We can End TB“. Tema “Ayo Bersama Akhiri TBC, Indonesia Bisa!” dipilih untuk membawa harapan bahwa kita memiliki kekuatan bersama untuk mengakhiri TBC pada tahun 2030 dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperingati Hari TB Sedunia, salah satunya upaya nyata yang di lakukan PDPI dalam penanggulangan TB salah satunya mendukung Kementerian Kesehatan RI yang telah mencanangkan kampanye TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh) sebagai salah satu pendekatan untuk menemukan, mendiagnosis, dan mengobati pasien TBC. Pengobatan TBC harus dilakukan dengan segera dan sesuai dengan arahan dokter. Menunda pengobatan serta ketidakpatuhan dalam konsumsi obat dapat memperlambat proses penyembuhan.

DR Dr Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) FISR FAPSR selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menerangkan kalau PDPI berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan Tuberkulosis paripurna dengan terus mematangkan publik privat mix dalam rangka peningkatan penemuan dan pengobatan kasus di masyarakat.

“PDPI juga terus mengembangkan dan mendukung penanganan Tuberkulosis yang lebih baik dari tingkat pusat dan perifer, pengembangan dan pengadaan alat dan teknologi baru dalam mendeteksi tuberkulosis,” ujar Agus.

Sementara itu Sekjen PDIP dr. Alvin Kosasih, Sp.P, FISR  menambahkan, PDPI juga terus melakukan penelitian dalam rangka pengembangan vaksin, obat – obatan Tuberkulosis dan ILTB terbaru untuk dapat direkomendasikan kepada pemerintah guna mencapai target penurunan kasus 17% per tahun.

“PDPI juga senantiasa bersinergi dengan Kementerian Kesehatan dalam pembuatan panduan nasional penanganan TB di Indonesia agar mencapai angka 17%,” sambung Alvin.

Risiko dari infeksi TBC ini dapat diminimalisir dengan tindakan seperti:

  • Ventilasi yang baik. Bakteri TBC mampu bertahan di udara selama beberapa jam. Alhasil, penting bagi kita memiliki ventilasi udara yang baik.
  • Cahaya yang alami. Bakteri ini dapat dibunuh oleh sinar UV.
  • Menjaga kebersihan. Bagi penderita TBC, penting untuk menjaga kebersihan seperti menutup mulut atau hidung saat batuk, dan juga selalu memakai masker di keramaian.
  • Menjaga kekebalan tubuh. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membunuh bakteri yang satu ini. Terbukti, 60 persen orang dewasa dengan kekebalan tubuh yang sehat dapat melawan penyakit ini.

Masih banyak upaya yang perlu dilakukan untuk Indonesia bisa mengakhiri TBC tahun 2030. Tentunya, langkah pertama dimulai dengan menciptakan masyarakat yang peduli kesehatan dan sadar tentang TBC.

Selain pemerintah, pihak swasta perlu berperan meningkatkan akses layanan kesehatan untuk TBC yang berkualitas dan berpusat kepada pasien.

Wujudkan Indonesia Sehat dengan TOSS TBC!

Ayo Bersama Akhiri TBC, Indonesia Bisa! [Adang]

%d blogger menyukai ini: