banner 120x600

SMPN 1 Cikini Deklarasikan Sekolah Sehat Dan Sekolah Bebas Sampah Plastik

Jajaran Guru dan siswa SMPN 1 Cikini beserta pembicara berfoto bersama usai deklarasi Sosialisasi Sekolah Sehat dan Sekolah Bebas Sampah Plastik bertempat di Bangsal SMPN 1 Cikini, Senin (13/11/2023). Foto: Borneonetv/Adang
banner 120x600

Jakarta, borneonetv.com – Setelah sukses menyelenggarakan penyuluhan kesehatan bertemakan “You Are What You Eat” bagi para siswa/i guru dan komite orangtua murid SMPN 1 Cikini pada September lalu, dan memberi penyuluhan bagi para vendor penjaja kantin sekolah tentang menu sehat, kali ini KIAS77 menghadiri sosialisasi dan deklarasi “SMPN 1 Menuju Sekolah Sehat Dan Sekolah Bebas Sampah Plastik” bertempat di Bangsal SMPN 1 Cikini, Senin (13/11/2023).

Turut hadir siswa/i dan Kepala Sekolah SMPN 1 Cikini beserta jajarannya, dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp. DVE., salah satu pengurus KIAS77 yang juga menjadi pembicara dan Dwi Widya Mutiara mewakili Youth and Education Team WWF Indonesia.

Piagam Sosialisasi Sekolah Sehat dan Sekolah Bebas Sampah Plastik bertempat di Bangsal SMPN 1 Cikini, Senin (13/11/2023). Foto: Borneonetv/Adang

Kepala Sekolah SMPN 1 Cikini Jakarta, Tri Puji Hartono meyambut dengan riang dan gembira dengan pendeklarasian sekolah sehat, kantin sehat dan bebas sampah plastik.
“Kami sangat senang karena ini adalah acara yang kita tunggu-tunggu di mana pada hari ini kita deklarasikan sekolah sehat, kantin sehat dan bebas sampah plastik untuk SMP Negeri 1 Jakarta,’ kata Tri.

Masih dikatakan Tri, bahwa bertepatan dengan perayaan satu abad kemerdekaan yaitu tahun 2045 telah dicanangkan Generasi Emas 2045. Generasi Emas 2045 merupakan sebuah wacana, dan gagasan dalam rangka mempersiapkan para generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi. Pada momentum satu abad kelak Indonesia ditargetkan sudah menjadi negara maju dan sejajar dengan negara adidaya lainnya.
“Hal itu dapat diwujudkan jika generasi muda memiliki kompetensi, kreativitas, dan inovasi yang tinggi. Kalau secara makro anak-anak SMP Negeri 1 Jakarta kita nanti di tahun 2045 itu akan menjadi generasi emas yang akan memimpin bangsa kita. Nah untuk itu dari awal di sekolah di SMP Negeri 1 dipersiapkan sejak dini untuk menjadi generasi yang sehat cerdas dan kompetitif. Untuk menjadi generasi tersebut harus diawali dengan makan sehat baik di rumah, di sekolah maupun saat mereka jajan” ujarnya.

Pihak sekolahpun menurut Tri, menganjurkan kepada para siswa untuk membawa tempat minum sendiri untuk mengurangi limbah sampah plastik, apalagi di sekolah juga sudah tersedia galon air minum.
“Kamipun sudah menyediakan air minum isi ulang yang dapat digunakan oleh para siswa. Tujuannya adalah mengurangi sampah plastik dari limbah botol minuman yang di bawa ataupun di beli siswa, gerakan ini di inisiasi oleh para alumni yang tergabung dalam KIAS77. Selain itu kami juga sudah mempunyai bank sampah. Bank Sampah adalah strategi untuk membangun kepedulian siswa agar dapat ‘berkawan’ dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi, bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diintegrasikan dengan gerakan 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan Replant) sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat,” jelas Tri.

Kepala Sekolah SMPN 1 Cikini Jakarta, Tri Puji Hartono menandatangani piagam Sosialisasi Sekolah Sehat dan Sekolah Bebas Sampah Plastik bertempat di Bangsal SMPN 1 Cikini, Senin (13/11/2023). Foto: Borneonetv/Adang

Seperti kita ketahui, plastik merupakan polimer yang akrab ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, sebagian besar akan menjadi sampah dan berakhir di sungai atau laut. “Rasio jumlah plastik terhadap ikan di laut pada 2025 adalah 1:3. Akan tetapi, pada 2050 diperkirakan jumlah sampah akan lebih banyak dibandingkan jumlah ikan di laut. Hal ini dapat diperparah dengan tindakan overfishing.” Setelah sekian lama limbah plastik itu mencemari laut atau sungai akan terurai menjadi serpihan kecil yang disebut mikroplastik. Mikroplastik adalah potongan plastik yang sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Meskipun ada berbagai pendapat mengenai ukurannya, mikroplastik didefinisikan memiliki diameter yang kurang dari 3 mm.

Terdapat dua jenis mikroplastik yaitu mikro primer yang diproduksi langsung untuk produk tertentu yang dipakai manusia (seperti sabun, deterjen, kosmetik, dan pakaian), serta mikro sekunder yang berasal dari penguraian sampah plastik di lautan. Kedua jenis mikroplastik ini dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang lama hingga beratus tahun.

Mikroplastik atau nanoplastik di alam menyerupai plankton yang hidup di perairan hingga akhirnya dimakan oleh pemangsanya seperti ikan atau hewan air lainnya sehingga akan mengalami penimbunan di dalam tubuh hewan pemangsa tersebut.

Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia salah satunya melalui makanan, misalnya mengkonsumsi ikan atau hewan air yang tercemar limbah plastik, penggunaan garam saat pengawetan ikan dan penggunaan wadah makanan yang terbuat dari plastik.

Ditempat yang sama, perwakilan Youth and Education Team  WWF Indonesia, Dwi Widya Mutiara mengatakan permasalahan sampah ini sebenarnya sudah cukup banyak yang tahu, hanya masalahnya masih sedikit yang mengaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.
“Kami WWF Indonesia sebenarnya lebih mengingatkan komitmen untuk mereka masing-masing  bisa bertanggung jawab, kalau memang menghasilkan sampah ya jadi bertanggung jawab dengan sampah yang dihasilkan ataupun juga kalau memang bisa mengelolanya,” kata Dwi.

Perwakilan Youth and Education Team  WWF Indonesia, Dwi Widya Mutiara berinteraksi dengan siswa peserta FGD mengenai pengelolaan manfaat sampah di TPA Bantar Gebang. Foto borneonetv/Adang

Bank Sampah menurut Dwi, bukan hanya sekedar mengumpulkan sampah pada tempatnya tapi bagaimana kita memilah sampahnya sesuai dengan jenisnya sehingga permasalahan sampah ini paling tidak berkurang dari rumah tangga. Sementara saat ini yang semakin banyak bikin masalah adalah belum diolahnya atau di pemilihannya sehingga masih di tumpuk dicampur jadi satu.
“Dipilah agar bisa di kelola mana yang bisa dimanfaatkan atau di donasikan, sampah yang mungkin bagi kita sudah tidak berguna tapi mungkin bagi orang-orang lain. Dan saya sangat amazed ternyata SMPN 1 Cikini ini ternyata sudah mempunyai bank sampah sendiri. Saya berharap bisa menjadi pilot project juga ataupun percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya,” sambung Dwi.

Menurut dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp. DVE, yang juga merupakan anggota KIAS77, dalam paparannya lebih menekankan akan pemahaman bahwa Kesehatan dan Lingkungan Adalah Bagai Saudara Kembar : satu sakit yang lain pasti juga akan sakit. Lingkungan yang tercemar, semisal cemaran polusi sampah plastik di sungai, laut yang dalam proses penguraian memakan waktu beratus tahun maka akan berubah bentuk menjadi mikroplastik bahkan nanoplastik (ukuran kurang dari 0,33 mm, tidak kasat mata). Mikroplastik ini sudah ditemukan di saluran cerna 25% ikan2 di Teluk Makassar sehingga pada tahun 2015 Indonesia dinobatkan menjadi penyampah laut urutan nomor dua dunia setelah Cina.
PBB mencanangkan Beat Plastic Pollution, karena polusi sampah plastik ini akan merusak rantai makanan semua mahluk hidup, termasuk manusia.

dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp. DVE, yang juga merupakan anggota KIAS77, dalam paparannya menekankan akan pemahaman bahwa “Kesehatan dan Lingkungan Adalah Bagai Saudara Kembar” di Bangsal SMPN 1 Cikini, Senin (13/11/2023). Foto: Borneonetv/Adang

“Sampah plastik di alam membutuhkan waktu yang lama dan panjang, sekitar ratusan tahun untuk terurai. Dalam prosesnya ini, mikroplastik ataupun nanoplastik ini akan bisa ditemukan dalam tubuh mahluk2 hidup di alam seperti ikan yang akhirnya akan bisa pula berada dalam tubuh manusia bila kita mengkonsumsi ikan yang tercemar tersebut. Semakin banyak laporan di dunia tentang cemaran sampah plastik ini ditemukan di dalam tubuh mahluk hidup , mempengaruhi kesehatannya hingga menyebabkan kematian hewan-hewan. Dampak pada manusia masih terus diteliti, karena temuan yang makin mengkhawatirkan yaitu pada tahun 2021 sudah ditemukan di plasenta bayi dalam kandungan. Ancaman serius bagi dunia kesehatan. Diharapkan dengan adanya pengetahuan yang baik pada anak-anak kita khususnya sejak kecil mengenai You are What You Eat (makan sampah keluarannya pasti juga akan sampah/garbage in-garbage out), pendidikan tentang menjaga lingkungan agar tidak tercemar sampah yang merusak rantai makanan mahluk hidup tak terkecuali manusia, dan khususnya pula pemahaman Kesehatan dan Lingkungan adalah saudara kembar yang amat saling berkaitan, dampak buruk lingkungan akan pasti mengancam kesehatan seluruh mahluk hidup, maka diharapkan sekolah bisa jadi pilar penting pendidikan ini selain keluarga ,” kata dr Nila sapaan akrab Amaranila yang juga inisiator GEMASS (Gerakan Makan Sehat Anak Sekolah), aktivis lingkungan dengan mendirikan MataCinta eco-conscious living serta menjadi advisor Health Impact & Education di Indonesia Waste Platform (IWP) dan juga merupakan mantan ketua kelompok studi Dermatologi Laser Indonesia di dunia profesi kedokterannya.

KIAS77 adalah sebuah paguyuban para alumni SMPN 1 Cikini tahun 1977 dan mulai aktif sejak 2012. Saat ini tercatat anggota yang aktif lebih dari 150 orang dengan jumlah pengurus sebanyak 7 orang. Selain penyuluhan yang baru saja berlangsung, KIAS77 juga aktif melakukan berbagai kegiatan seperti pertemuan rutin tahunan, bakti sosial, tali kasih semisal pemberian ponsel untuk beberapa siswa kurang mampu ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat Covid-19.

Kedepannya KIAS77 berharap acara ini semakin mendekatkan para alumni angkatan 77 termasuk juga lintas angkatan (LINGKAR CR87) dan para siswa yang masih menyelesaikan pendidikannya. [Adang]

%d blogger menyukai ini: