banner 120x600

Figur Jokowi Diuntungkan Saat Kharisma Sukarno Meredup

Foto: dok KLHK
banner 120x600

Jakarta, borneonetv.com – Kemunculan figur Jokowi sebagai Presiden dua periode (2014 hingga kini), ada kaitannya dengan redupnya kharisma Sukarno di kalangan generasi muda. Ini dinyatakan ilmuwan dan pengamat politik Fachry Ali dalam diskusi tentang demokrasi dan dinasti politik di Jakarta (16/11).

Diskusi diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, serta dipandu Elza Peldi Taher dan Amelia Fitriani.

Fachry menjelaskan, bicara tentang politik dinasti, ada struktur kejadian (structure of events) yang mendorong Presiden Jokowi bisa mengkonsentrasikan kekuasaan. Secara hipotesis, ini karena pengaruh kharismatik Presiden Sukarno kian lama kian surut.

“Ingatan tentang Presiden Sukarno di kalangan generasi muda menjadi lebih abstrak dibandingkan generasi-generasi sebelumnya,” ucap Fachry.

Hal ini mendorong partai nasionalis, yaitu PDI Perjuangan, untuk mencari tokoh lain. Dalam beberapa hal, Megawati mewakili kharisma Sukarno. Tetapi kian lama, itu kian tak bisa dipertahankan. Jadi perlu dicari tokoh baru. Dalam situasi semacam inilah, Jokowi tampil ke depan.

Kedua, masih bagian dari struktur kejadian, secara kebetulan yang bertarung dengan Jokowi dalam kontestasi Pilpres 2014 dan 2019 adalah Prabowo Subianto.

“Kemunculan Prabowo itu dibayang-bayangi oleh kegagalan kaum elite untuk secara konsisten memegang kekuasaan yang telah diberikan oleh rakyat,” ungkap Fachry. “Siapa elite itu? Dia adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).”

SBY ini adalah elite terakhir yang menjadi presiden RI. Sejak 1965 hingga 1997, lalu munculnya BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati, semuanya adalah dari kalangan elite.

Fachry menuturkan, SBY dipilih oleh rakyat sebagai sebuah kelanjutan dari fantasi publik bahwa yang harus jadi Presiden adalah yang tampilannya “mriyayi,” tingkah lakunya, cakapnya, postur tubuhnya elok, enak dipandang, dan sebagainya.

Maka kemudian SBY bisa mempertahankan posisinya hingga dua periode. Persoalannya adalah di ujungnya, rakyat melihat banyak elite korup yang ditangkap KPK. “Dalam situasi semacam ini maka tingkat kepercayaan rakyat pada elite terhenti,” kata Fachry.

Prabowo pada pilpres 2014 itu dipandang masih mewakili elite. Fachry menjelaskan, dalam konteks inilah, kemunculan Jokowi dianggap merupakan sebuah alternatif. Jokowi itu adalah pemimpin pasca-elite (post-elite leader).

“Jadi Jokowi yang muncul pada pilpres 2014 dan 2019 itu dianggap sebagai eksperimen politik rakyat, berhadapan dengan kekuatan elite. Jadi Jokowi adalah representasi rakyat,” tegas Fachry.

“Selain itu, ada keinginan dari kaum intelektual, para aktivis kota, yang menolak kehadiran militer dan Orde Baru lagi. Mereka menjadi penyokong utama kemunculan Jokowi,” lanjutnya (abri).

%d blogger menyukai ini: