banner 120x600

Gelaran Pesta Seni Edas Mahasiswa LSPR Sebagai Upaya Melanggengkan Budaya Dan Persiapan Memasuki Dunia Kerja

Wayang Kaleng merupakan salah satu ciri khas kampung Wisata Edas yang terbuat dari limbah kaleng, karung, tambang, tali, dan bambu
banner 120x600

Bogor, borneonetv.com – Mahasiswa Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR Jakarta dari kelas PRDC25-ISP mengadakan acara “Pesta Edas” yang bertujuan untuk memperkenalkan keberagaman budaya yang dimiliki oleh Kampung Seni Edas di Kota Bogor, Minggu (09/06/2024).

Kegiatan yang berlangsung di Sanggar Tari Edas, Kampung Seni Edas, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur ini dimeriahkan dengan Showcase yang menampilkan kesenian khas Kampung Seni Edas serta Mini Exhibition yang dapat dilihat dan dinikmati oleh pengunjung. Program ini merupakan bentuk partisipasi LSPR dalam mendukung program pemerintah terutama di bidang pendidikan yaitu Kampus Merdeka Desa Keberlanjutan. Pelaksanaan Community Development ini merupakan implementasi dari penggabungan 4 mata kuliah yaitu Community Development, Creative Production & Publicity, Public Relations Communication Technigue, dan Community Development.

Pimpinan Kampung Seni Edas, Ade Suarsa, mengatakan bahwa kesenian yang ada di sanggarnya merupakan karya orisinal kampung tersebut.
“Kampung Seni Edas dibuat sebagai tempat wisata kesenian pertama di Bogor dengan kesenian yang diciptakan sendiri seperti Langir Badong, Wayang Kaleng, Boboko Ngentep, dan sebagainya. Sehingga kesenian ini tidak ada di tempat lain.” ujar Ade Suarsa.

Menurut Ade, Kampung Seni Edas berawal dari Sanggar Seni Edas pada tahun 2008 dan mulai menggeliat pada masa pendemi hanya saja belum banyak terpublikasikan sampai pada akhirnya datanglah mahasiswa LSPR yang mengubah persepsi tentang media.
“Namun disayangkan kurangnya ekspos media sehingga keberadaan Kampung Seni Edas kurang dikenal. Dan pada akhirnya kami berterima kasih kepada anak-anak muda dari LSPR yang sampai sekarang masih mau peduli dengan kesenian tradisional mengingat kesenian tradisional saat ini kan sudah mulai banyak dilupakan ya,” tambah Ade.

Sementara itu Dosen Community Development dan pembimbing mahasiswa LSPR, Rizka Septiana M.Si., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari 4 mata kuliah di semester 6.
“Kami bangga dengan para mahasiswa LSPR yang sudah melaksanakan acara ini dengan baik. Diharapkan di kemudian hari, para mahasiswa kami ini sudah akan siap terjun ke dunia pekerjaan,” ucap Rizka.

Ketua Pelaksana Pesta Edas, Theodore Roosevelt, berharap dengan kegiatan ini keberadaan Kampung Seni Edas semakin dikenal masyarakat luas
“Harapan kami, melalui Pesta Edas ini, Kampung Seni Edas dapat dikenal secara lebih luas, terutama di kalangan pemuda dan pelajar, sebagai upaya melestarikan budaya Indonesia. Kami juga berharap kegiatan ini dapat membantu memakmurkan budaya dan kesejahteraan masyarakat Sindangsari,” tambah Theodore.

Acara ini tidak hanya menjadi sebuah perayaan kesenian, tetapi juga menjadi momentum untuk menginspirasi generasi muda lainnya untuk memahami dan melestarikan warisan budaya yang berharga.

Ditempat yang sama pemerhati seni dan budaya dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Prof. Dr. Hj. Tati Narawati, M.Hum., mengapresiasi penyelenggaraan berkesenian ini.
“Patut di apresiasi apa yang di rintis oleh Pak Ade sebagai inisiator kampung seni ini. Berawal sesuatu yang tidak biasa tapi beranjak dari tradisi. Nah ini yang memutuskan gap antara anak-anak muda dengan para orang tua sehingga menjadi tradisi yang terbarukan menjadi tradisi yang bisa di nikmati orang tua dan generasi millenial. Dan pemerintah harus hadir tidak hanya di Kampung Seni Edas tapi juga di seluruh pelosok negeri. Indonesia,” pinta Tati.

Acara ini dibuka dengan pertunjukan tarian Lodong Bogoran yang dihadiri oleh Camat Bogor Timur, Feby Darmawan, Lurah Desa Sindangsari, Nendar Kusnida dan aparat terkait

Pesta Edas dimulai dengan pawai tarian dan alat musik dari gerbang Kampung Seni Edas menuju Sanggar Seni Edas untuk menyambut dan mengantar tamu-tamu yang datang.

Pertunjukan diawali dengan penampilan Wayang Kaleng yaitu merupakan salah satu ciri khas Edas yang terbuat dari limbah kaleng, karung, tambang, tali, dan bambu. Wayang ini mengisahkan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat seperti pudarnya kebudayaan di generasi muda. Wayang Kaleng ini nantinya akan diperkenalkan dan dipertunjukkan untuk pertama kalinya secara internasional di Australia. Dalam pertunjukan wayang kaleng, penonton juga diajak untuk mencoba alat musik tradisional Pew Pew bersama-sama. Selanjutnya penampilan diisi dengan pertunjukan Lembur Kuring Khas Kampung Seni Eda oleh siswi SMP Negeri 1 Bogor. Lembur kuring merupakan pertunjukan alat musik tradisional Sunda yang dipadukan dengan nyanyian. Kemudian, acara diakhiri dengan pertunjukan Tari Kaulinan Barudak yang merupakan tarian anak-anak diambil dari budaya bermain anak-anak serta Tunggul Kawung yang merupakan perpaduan tarian dan bedug.

Acara ini tidak hanya menjadi sebuah perayaan kesenian, tetapi juga menjadi momentum untuk menginspirasi generasi muda lainnya untuk memahami dan melestarikan warisan budaya yang berharga.

Selama acara Pesta Edas berlangsung, para pengunjung juga dapat melihat Mini Exhibition yang menampilkan kostum tari yang dimiliki Edas. Para pengunjung juga dapat melihat kegiatan-kegiatan yang sebelumnya pernah dilakukan warga Kampung Seni Edas melalui foto-foto yang ditampilkan.

NKRI Harga Mati, Seni Budaya Harga Diri.

%d blogger menyukai ini: